Puisi Pendidikan

puisi pendidikan

Puisi Pendidikan – Pendidikan merupakan dasar yang terpenting untuk membentuk generasi berkualitas untuk memajukan negara Indonesia tercinta ini melalui prestasi anak anak mudanya. Oleh karena itu pendidikan yang berkualitas akan menentukan hasil generasi yang berkualitas juga.

Ada beragam jenis puisi yang bisa kita temukan di sekitar. Salah satunya adalah puisi pendidikan. Sesuai namanya, sudah pasti puisi satu ini akan bermakna tentang pendidikan. Isi puisinya bisa tentang belajar, sekolah, perpustakaan, dan hal-hal lain yang terkait. Tidak jarang puisi ini menggambarkan kisah tentang pendidikan, baik kisah sendu dan pilu maupun kisah bahagia yang memberi semangat.

Puisi seputar pendidikan juga seringkali dijadikan tugas sekolah di mana siswa diharuskan membuat contohnya. Sebelum membuat puisi bertema pendidikan, ada baiknya kita ketahui dulu apa itu pendidikan serta fungsinya. Pemahaman ini akan membantu kita dalam menyusun puisi nantinya.

Contoh Puisi Pendidikan

Puisi yang mengambil tema pendidikan bisa menceritakan banyak hal. Contoh puisi pendidikan dapat mengisahkan tentang perjuangan mendapat pendidikan, perjalanan berangkat ke sekolah, keseharian murid atau guru, hingga buku-buku di perpustakaan pun bisa jadi sumber ide puisi. Berikut adalah salah satu contoh yang mengisahkan tentang perpustakaan.

Perpustakaan

Letakmu ada di ujung koridor
Bersebelahan dengan ruang guru
Luasnya tak seberapa
Dengan keramik putih dan dinding yang mulai memudar
Rak-rak mengisi bagian dalamnya
Menampung buku-buku termakan usia
Lemari kaca menunjukkan piala
Dan tempat majalah yang terbuat dari baja
Murid-murid berdatangan silih berganti
Membaca, mengerjakan tugas, hingga bersenda gurau dengan sesama
Peranmu tak terganti
Walau teknologi silih berganti
Membuat posisimu tak lagi di hati
Deretan buku-buku tua dan majalah lama
Menjadi pengisi yang selalu dicari

Contoh puisi pendidikan bisa mengenai tema lain. Ada banyak hal yang bisa ditunjukkan dalam puisi bertema pendidikan. Kita tidak harus membuat puisi yang mengangkat tema berat. Cukup pengalaman sehari-hari saja sudah dapat dijadikan sumber inspirasi dalam menulis puisi. Apalagi, menuntut pendidikan di bangku sekolah tentu bukan hal asing bagi kita.
Yang terpenting dari pembuatan puisi bertema pendidikan ini ialah ide dasarnya harus tentang pendidikan. Setelah itu, kita bisa mengembangkannya sesuai imajinasi dan kemampuan masing-masing. Berikut contoh puisi tentang pendidikan lainnya :
Puisi Pendidikan tentang buku

 

Buku
Susiska ArumKau tempatku menabur ilmu…
kau jendela di hidupku…
kau tempatku goreskan jutaan pena…
namun, terkadang orang mengabaikannya…
kau tertumpuk deraian debu…

Buku…
kau tempatku berbagi rasa….
meski engkau hanya diam membisu…
lembaran demi lembaran yang terisi…

Tertancap keindahan ilmu menawan…
terselip kata demi kata…
yang mengisi hari-harimu…

Buku…
kau tempatku goreskan pena…
goresan pena kini tertancap di badanmu…
jutaan kata kini terlukis di badanmu…

Kau tempatku lukiskan keindahan…
kau tempatku berbagi kesakitan….

Buku…
kau yang mengajariku arti kehidupan…
tiada pantas hidup ini kulewati…
tanpa engkau di sisiku…

Kau guru yang hanya bisa diam membisu…
namun, kau memberikan jutaan ilmu yang tersimpan di setiap lembaran…

Puisi pendidikan diatas yang berjudul buku menggambarkan betapa pentingnya buku. Di dalam buku banyak sekali ilmu – ilmu pengetahuan, namun tidak semua orang butuh dengan buku. Bahkan ada yang sama sekali mengabaikannya bertumpuk-tumpuk di gudang.

Apa Kabar Pendidikan Negeriku
Dian HartatiSampai kini saya tidak tahu
Apakah titel sarjana nan dibangga-banggakan ayahku dulu
Dapat menyambung lambungku, istriku dan anak-anakku
Tujuh Belas tahun sudah segudang uang di lumbung keringat ayah-ibuku
Kuhabiskan di meja pendidikan
Namun saya tetap tidak mampu memberi anak-anakku sesuap makan

Tujuh belas tahun sudah kuhabiskan waktuku di ruang gerah sekolah dan kuliah
Namun tidak memberiku otak brilian dan keterampilan nan sepadan
Aku hanya terampil menyontek garapan temanku
Aku hanya terampil membajak dan menjiplak karya negeri orang

Aku terampil mencuri ide-ide bukannya mencipta
Apa kabar pendidikan negeriku
Adakah kini kau sudah berbenah
Sehingga anak cucuku akan bisa merasai sekolah nan indah
Dan masa depan nan cerah?

Pesan Dari GuruDengan tertatih-tatih
ku kayuh sepeda tua itu
dengan nafas terengah-engah
ku sandarkan di pagar tua

Anakku, aku datang
tak bawa mobil mewah
tak bawa rupiah

Tapi aku punya cinta
cintaku begitu besar
lebih dari sepeda tua itu
tahukah kau
aku sangat menyayangimu

Ini daerah terpencil
tapi jangan kau berpikiran kerdil

Bangkitlah …
Berjuanglah …

Kau harus bisa taklukkan
gedung-gedung pencakar langit itu
hancurkan kebodohanmu

Bangkit dari tidurmu
raih mimpi
gapai prestasi

Aku hanya orang tua
yang tak berarti apa-apa
tapi aku punya cinta

Cinta untukmu begitu besar
lebih dari sepeda tua itu

Tak Mau Jadi Orang BodohSeorang anak kecil
Berjalan dengan kaki telanjang
Menapaki jalan berbatu
Terasa sakit menusuk kaki

Aku ini juga manusia
Yang punya nyawa
Sama sepertimu
Yang punya rasa
Sama sepertimu

Tapi kau tak punya hati
Kau punya mata
Tapi tak melihat
Kau punya telinga
Tapi tak mendengar
Kau punya segalanya
Tapi tak merasa

Lihat dirimu
Uang kau hambur-hamburkan
Lari dari gudang ilmu
Tak kau ingat begitu banyak tetesan peluh
Dan air mata yang membasahi tubuh itu

Aku beda dengan kau
Aku tak punya sepertimu
Tapi aku tak mau jadi orang bodoh sepertimu
Aku ingin punya banyak ilmu
Aku adalah aku
Bukan kau

Harapan Yang KandasAku berjalan menyusuri jalan setapak,
pada sebuah pemukiman
tempat sejumlah anak bangsa
berteduh dari rintikan air hujan
mencoba menghindar dari terik panasnya matahari
tempat yang sering mereka sebut ‘Rumah’

Saat aku berjalan,
ku lihat anak bangsa
dengan seragam kumuh yang dikena
tanpa alas kaki yang melindungi
membuat kakinya tak jarang terkotori cipratan lumpur di sisi jalan
tapi semangatnya menuntut ilmu,
seperti api yang menyala-nyala
dan takkan pernah padam

Aku kembali berjalan,
sesaat ku dengar rintihan anak bangsa
“Ibu, Bapa, Aku ingin sekolah seperti mereka. Aku juga punya impian, harapan dan masa depan,” rintihnya.
tapi apa daya, kedua orangtuanya hanya mampu diam seribu bahasa

Pemimpinku, Pemerintahku,
apa kalian tak melihat?
kesusahan menyelimuti anak bangsa
apa kalian juga tak mendengar?
rintihan anak bangsa yang haus akan pendidikan
apa mungkin kalian terlalu sibuk?
terlalu sibuk memanjakan harta
dan terlalu sibuk bermain dengan uang-uang kalian

Atau mungkin kalian lupa?
tiap kali janji manis kau ucapkan
di depan ribuan pasang mata yang menyaksikan

Tak ingatkah kalian, wahai para petinggi negara?
anak bangsa bagian dari rakyat
karena rakyat kalian memimpin
karena rakyat kalian jadi pemimpin
walau hanya satu suara dan satu kepercayaan dari tiap rakyat
tak sadarkah kalian, ‘satu’ pun bermakna
karena takkan ada ‘seribu’ tanpa ‘satu’

Pemimpinku, Pemerintahku,
tak sadarkah?
rakyat telah pertaruhkan segalanya
dari impian, harapan, hingga masa depan
tapi apa balasan dari tiap ‘satu’ suara dan ‘satu’ kepercayaan yang rakyat pertaruhkan?
hanya sebatas tipuan dan angan-angan yang nampak ‘mustahil, jadi kenyataan

Aku hanya berharap
suatu saat, negeri ini
negeri yang kini padam
kan kembali terang benderang

Jangan Malas MembacaSesobek kertas sudah diberikan
seuntai tulisan pula berada di dalamnya
duhai anak yang malang
mengapa engkau diam saja?

Mengapa kertas itu cuma kau simpan?
sungguh tidak sedikit angan-angan terpendam
ilmu maha luas sudah tertuliskan
tapi sayang kau enggan membaca

Dunia demikian luas ilmu pula demikian terbentang
sungguh dunia sudah bicara,
kau mau tahu isiku?
kau mau mengerti apa menyangkut dunia ini?

Malang beribu malang kau enggan membaca
duhai anak yang malang
bangkitlah kini
pengetahuan luas sudah menantimu
lawanlah jiwa kotormu itu
tuk mencapai impianmu

Guruku Pahlawanku
Cindy Agustin

Sinar pagi yang cerah..
membuat aku bergegas untuk berangkat sekolah
sungguh senang hari ini
demi mendapat ilmu
aku rela berjalan kaki
untuk meraih suksesku

Gurulah yang memberiku ilmu
Gurulah yang menyemangatiku
Gurulah yang membimbingku

Tanpa ilmu aku takkan sukses
tidak ada guru tidak ada pula ilmu

Terima kasih guru
kaulah guru terhebat bagiku
kaulah pahlawanku
pahlawan tanpa tanda jasa

Jika suatu saat nanti aku sudah menjadi sepertimu
aku akan memberikan ilmu yang kau berikan kepada ku
untuk mereka yang membutuhkanku

Guru jasamu akan selalu kukenangIbu Guruku Tersayang

Ibu Guru
kau yang telah mendidikku
kau yang telah menasehati ku
dalam keadaan bingung

Ibu Guru
engkau adalah pahlawanku
engkau bagaikan penyelamatku
engkau tulus mengajariku

Ibu Guru
terima kasih atas semua jasamu
aku sayang padamu
seperti kau menyayangiku

Baca Juga : 45+ Kumpulan Puisi Ibu yang Sangat Menyentuh Hati

Pahlawan PendidikanJika dunia kami yang dulu kosong
tak pernah kau isi
mungkin hanya ada warna hampa, gelap
tak bisa apa-apa, tak bisa kemana-mana
tapi kini dunia kami penuh warna

Dengan goresan garis-garis, juga kata
yang dulu hanya jadi mimpi
kini mulai terlihat bukan lagi mimpi
itu karena kau yang mengajarkan
tentang mana warna yang indah
tentang garis yang harus dilukis
juga tentang kata yang harus dibaca

Terimakasih guruku dari hatiku
untuk semua pejuang pendidikan
dengan pendidikanlah kita bisa memperbaiki bangsa
dengan pendidikanlah nasib kita bisa dirubah

Apa yang tak mungkin kau jadikan mungkin
hanya ucapan terakhir dari mulutku
di hari pendidikan nasional ini
gempitakanlah selalu jiwamu wahai pejuang pendidikan Indonesia

Taman Ilmu

Karya Nur Wachid

Musim kemarau panas berkepanjangan
Musim penghujan hujan berdatangan
Itulah hebatnya dirimu

Panas hujan tetap untuk kau berdiri
Kau hanya tumpukan bata merah

Tulang mu hanya dari besi

Seindah dirimu namamu sama
Seburuk bentukmu tidak kurangi gunamu
Kaulah taman kehidupan
Tempat tertanam berjuta ilmu

Bunga merekah terlahir darimu
Hiruk pikuk pendidikan tertelan olehmu
Tanpamu semua tampak bodoh

Alangkah indahnya¡­.
Jika dirimu berdiri dimana-mana
Tanpa ada beda di desa dan kota

Sayangnya kau bukan manusia
Kakimu tertanam di bumi
Tak bisa jalan kemana-mana

Waktu Yang KusesaliOleh Robiatul Adawiyah

Begitu cepat waktu berlalu
Tak terasa perjumpaan ku sudah berlalu
Sangat cepat ,Sangat menyesal ,Sangat kecewa

Teringat dalam Memori yang lalu
Menangis mengingat masa-masa yang lalu
Melukiskan canda tawa & kebahagiaan bersamamu

Sepanjang waktu berlalu
Kenapa kami baru menaruh perhatian pada Guru
Saat Guru tetah tiada
Karena di panggil oleh Sang Maha Kuasa

Begitu kejamnya kami melupakan jasa mu
Maafkan kami guru
Yang telah menggoreskan tinta hitam,di dalam hidupmu
Andaikan waktu dapat terulang
Kami berjanji akan memberikan yang terbaik bagimu

Tangisan kami hanya untukmu
Saat kami tak mengerti,
Guru yang akan menjelaskannya
Saat kami membuat kesalahan,
Guru yang menasihatinya
Saat kami mengingatmu,
Kau telah tiada

Jasamu kan abadi bersemayam di hati kami
Begitu besar perhatianmu pada kami
Yang selama ini menyusahkanmu
Hanya kata TERIMA KASIH & MAAF untuk Mu

Ayo membacaKarya Abdul Jalil

Sesobek kertas telah diberikan
Seuntai tulisan juga berada di dalamnya

Duhai nak nan malang
Kenapa engkau diam saja?
Kenapa kertas itu hanya kau simpan?

Sungguh banyak asa terpendam
Ilmu maha luas telah tertuliskan
Namun sayang kau malas membaca

Dunia begitu luas ilmu pun begitu terbentang
Sungguh global telah berkata,
Kau ingin tahu isiku?
Kau ingin mengeri apa tentang global ini?

Malang beribu malang kau malas membaca
Duhai anak nan malang

Bangkitlah sekarang
Wawasan luas telah menantimu
Lawanlah jiawa kotormu itu

Tuk mencapai impianmu

Pahlawan KehidupanKarya: Nur Wachid

Ku lihat kau berbuat
Ku dengar kau berbicara
Ku rasakan kau merasakan
Mata binar tak khayal menjadi panutan
Sejuk terasa haluan kata ¨C katamu
Menjadi sugesti pada diri kami
Hingga jiwa ini tak sanggup berlari
Menjauhi jalan hakiki
Lelah dirimu tak kau risaukan
Hiruk pikuk kehidupan mengharu biru
Itu jasa tentang pengabdian
Bukan jasa tentang perekonomian
Semangatmu menjadi penghidupan
Untuk kami menjalani kehidupan
Jangan pernah kau bosan
Jadi haluan panutan
Meski pertiwi dalam kesengsaraan
Kaulah pelita cahaya kehidupan
Terima kasih untukmu
Sang pahlawan kehidupan

Penolong Dalam Kegelapan (Guru)Oleh Muhammad Hafiz Nur

Sosok yang tanpa mengenal lelah .
Sosok yang menindas perlakuan kasar yang dilontarkan siswa-siswi kepadanya .
Sosok yang berlangkah tegap dan tegas walaupun kening dan pipi mereka sudah mulai memancarkan kekusutan dari raut wajahnya .

Wahai guruku ..
Kau telah memberi warna pelangi didalam kehidupan kami.
7 warna yang telah berkumpul menjadi satu paduan .
7 kesempurnaan yang telah kau berikan untuk bekal kami kelak dimasa yang akan datang

Kau mengajarkan yang Awal mulanya kami tidak mengenal huruf abjad sampai kami bisa menjadi orang-orang yang kalian harapkan , orang-orang yang sukses dan orang-orang yang telah menyandang gelar terhormat seperti kalian bahkan akan lebih dari pada itu .

Guru ..
Maafkan kami yang telah berbuat kesalahan kepada kalian .
Dari hal yang sekecil debu yang tak terlihat bahkan sampai kesalahan yang besar yang bisa terlihat dengan mata kasar .

Tak banyak serumpun do¡¯a yang kami panjatkan .
Semoga kalian guru-guru kami tetap sabar dalam membina dan mendidik kami dan menjadi lah PAHLAWAN tanpa tanda jasa dan mengajar tanpa mengenal kata LELAH .

Kami sayang kalian bapak dan ibu guru kami yang tercinta .

Buku #2Oleh Erni Ristyanti

Buku
Kau adalah sumber ilmu
Dimana aku belajar dan membaca
Dari aku tak tahu sampai tahu

Buku
Kau adalah jendela ilmu
Jendela menuju kehidupan yang lebih sukses
Menuju kehidupan yang lebih indah

Halaman demi halaman
Lembar demi lembar
Kubaca dengan serius
Hingga aku lupa waktu

Terimakasih buku
Engkau temaniku
Dari kecil hingga besar
Tuk menggapai cita-citaku

Puisi Cahaya PendidikanBy. Rozat Rifai

Dalam Keningku aku termangu
Sebuah cahaya penentu masa depan
menjadi sebuah motivator pergerakan
Dalam menjunjung tinggi pendidikan

Di saat mataku tertutup kebodohan
Engkau hadir dengan sejuta harapan
pembongkar sandi kegelapan
pendidikan,,, pengubah zaman

2 mei selalu kami rayakan
mengharap selalu ada kemajuan
menjadikan kami selalu terdepan
dalam segala aspek kehidupan

Puisi Hari Pendidikan Nasional
Karya Ismail Ahbar

Jika kau lihat bendera merah putih berkibar dihalaman sekolah
Belum tentu disana ada orang Indonesia
Jika kau dengar Pancasila dibacakan berulang-ulang,
Belum tentu semua yang mendengarnya punya Tuhan Yang Maha Esa

Jika kau lihat Pak Guru pakai sepeda Kumbang,
itu pasti kau sedang mimpi bertemu Oemar Bakri
Jika kau lihat anak sekolah memakai seragam,
pastikan udel dan BH nya tak tampak oleh umum

Jika kau lihat guru memukul muridnya, itu biasa
Jika kau lihat sekolah ¨C sekolah negeri dan swasta jauh berbeda,
itu karena sekarang pendidikan pun menjadi ladang bisnis
Jika kau lihat Politisi berjanji tentang pendidikan murah dan cerdas,
lihatlah, pendidikan pun didramatisir

Jika kau lihat dosen-dosen mu tak ada dimeja,
yakinlah, mereka sedang sangat sibuk, urusan ini, dan urusan itu
Jika kau lihat pelajar tawuran,
terbiasalah, pendidikan kita ¡®kan tentang otot dan tulang,
bukan tentang otak dan sosial emosional

Jika kau lihat aku mengkritik saja,
percayalah, lebih baik begini,
daripada diam dan dibodohi sampai tertidur dibangku mu,

Semangat…..Sebab hidup tak boleh mati karena liur-liur politik.

Puisi tentang Pendidikan dari Murid

Puisi Pendidikan tentang guru

Ujung Meja ReotTersudut, aku hitam kelam tak dapat sayu pandangan
Memikirkan duniaku, terganti oleh kehadiran kalian
Berusaha jaya tapi merasa tidak pernah dianggap ada
Terpojok, kau yakinkan aku tak pernah berfikir
Betapa membosankan kehidupanku sejak tiupan lilin yang ke lima
Mak bapak tak pernah ingatkan apapun selain tentang bangunan tua ini
Kertas-kertas lecek bergambar merah
Nyalanya menyulut amarah bapak

Kata sayang berubah makian
Sentuhan lembut secepat kilat bermetamorfosa
Meja reot ia bertiang piala dan medali
Dia lemah, tak semegah kesombongan kilau emas dan peraknya
Aku ingin kembali sebelum angka lima
Empat tiga atau dua
Bolehkan aku tetap kecil mak?
Kecil untuk besar, dan bodoh untuk pintar, kata makku

Ahh..
Emak tak pernah salah
Gedung tua aku akan disini lama
Gambar jam dengan semua jarum diangka dua belas
Tekun kubuat mereka di atas meja dan sampul buku-buku berat

Bu Guru, MaafSengaja aku tidak masuk
Menahan lara kau sayat kejam
Jika harga diriku sebatas angka-angka
Nominal tinggi kau tak mampu membeli
Lupakan saja dan jangan anggap aku ada
Sebuah isyarat damai akan aku terima
Mata dibalik dua mata

Kenapa harus memandang aku
Jika baris terakhir menjadi penutup
Usaikan saja kelasku hari itu
Aku tidak ingin lagi datang
Aku senang tidak akan kembali
Taman bermain tak seindah mimpi-mimpi
Bidadari menjadi bertaring dengan kuku panjang

Kasih? ku pikir itu berlebihan
Ku benci banyak mata mengawasi

PR Kemarin SoreMenari-nari semua meninggalkanku
Sekuat tenaga kutangkap kujadikan menjadi satu
Menata merek menjadi rapi agar kau tak marah besok pagi
Berputar-putar mereka mengubah fantasi indah
Sekuat aku jaga tulisan itu berhamburan melempariku
Sudahlah aku menyerah

Kubawa penuh kasih ke peristirahatan
Ijinkan malam ini aku damai
Meski matahari esok awal petaka berulang
Langkah kakimu membangunkan kemarahan
Berdiri bagai benteng pertahanan tandakan kelemahan

Aku tak bisa dengan batas minimu
Begitupun kau takkan mampu menembus tentaraku
Saat aku hitam haruskah berpura-pura menjadi putih
Kurikulum menjadi petisi pengakuan kekalahanku

Puisi Tema Pendidikan Oleh Guru

Mana Gaji Kami?Dalam hati yang terbayang adalah anak-anak dirumah menangis lapar
Gaduh menjadi sunyi penuh duka
Kami berdiri tegar tegak di baris paling depan
Menjadi kami benaung dalam bangunan megah tinggi
Kata mereka betapa beruntungnya ..
Sedang atap kami tak mampu menahan gerimis
Lantai berlubang tua perjuangan
Dan rumah-rumah tanpa ventilasi

Mimpi tetap terajut benang terlepas
Doa mereka kami amini
Berat beban di pundak keropos
Berdiri kokoh dalam jiwa yang doyong terhuyung lemah
Rasa lapar cambuk kesakitan
Tersenyum kami penuh ketabahan

Sudah LupakanJanji mari kita buang sama-sama
Suara menggelegar ditengah pesta demokrasi
Katanya kami pengabdi, kelebihan membuat kami menjadi tuan meski tak lama
Pesta yang berakhir, kenangan menjadi hilang
Aku melupakan dan lupakan pula
Kesakitan bukan hanya milik kami, ku tahu
Ribuan kami, beberapa dari anda

Kami pelajari banyak hal untuk kembali mengajarkan
Memahami banyak masalah untuk membuat mereka mengerti
Mengukir pondasi tidak selalu akan terlihat
Seberapapun kami mengerti,sedikitpun tak ada yang dipahami
Tentang sebuah janji, lebih baik kami tuli

BerpendidikanlahBerpendidikanlah ..
Maka hidupmu akan berubah Berpendidikanlah ..
Maka mata yang mulanya hitam akan terang
Berpendidikanlah ..
Maka resahanmu akan menjadi emas

Banyak orang menganggur karena sekolah
Banyak orang pontang-panting karena sekolah
Memanglah pendidikan bukan jaminan
Tapi hendaknya berusahalah

Berpendidikanlah ..
Dunia tidak hanya membutuhkan kepandaianmu
Kini dunia tidak butuh itu
Karena cuma pandai itu tidak cukup
Yang dibutuhkan hanya tekadmu
Niatmu ..
Semangatmu ..
Usahamu ..

Pemerintah tidak akan mempersulitmu
Gunakan semua fasilitas
Semua ini untuk generasi bangsa
Manfaatkan .. manfaatkan ..

Masa depanmu di tanganmu
Pendidikan hanyalah jembatan
Hanyalah sarana
Bangkitlah ..
Majulah ..

Lihat dirimu
Apa kau ingin seperti orangtuamu
Air mata yang terus membasahi pipinya
Apa tak kasihan
Di mana hatimu ..
Ini semua untuknya bukan
Ayo bangkitlah
Ayo majulah
Ayo buktikan
Demi orangtuamu

Hingga dirimu berubah menjadi jingga yang ranum.

(Oleh: Iin Fajar Duhri Saputri)

Puisi Pendidikan: “Pena”Pena…
Kuikat ilmu dengannya…
Kutulis kisah sejarah bersamanya…

Pena…
Kugapai cita cita dengannya
Tak lupa teriring doa dan usaha
Sebagai wujud penghambaanku pada sang Pencipta

Pena…
Bersamanya, kutulis cerita cinta berbau surga
Agar manusia tak terjebak pada dunia yang fana
Tak jelas asalnya, tak jelas pula hasilnya

Pena…
Simbol peradaban dari zaman purba ke zaman aksara
Di mana manusia tak lagi menghambakan diri pada mitos yang tak jelas asalnya

Pena…
Dengannya, hidup manusia menjadi mulia
Lantaran mencari ilmu untuk kesejahteraan dunia.

(Oleh: Ade Lanuari Abdan Syakuro)

Tina hitamkuSunyi, gersang, redup…
Itulah diriku
12 tahun sudah mengemban ilmu, dengan rasa pilu
Diriku hanya insan biasa, yang masih kaku dalam mencarimu
Aku harus bangkit, bangkit dan bangkit
Demi sebuah kemenangan sejati

12 tahun sudah bersama tinta hitamku, menorehkan kata per kata di atas selembar kertas putih
Di sini bukan masalah gelar ataupun pangkat, namun masalah jati diri
Bukan untuk menjadi kaya, bukan!!
Cukup menjadi sebuah acuan dalam kehidupan

Di negeri ini aku menuntut ilmu, mencari hal baru dalam sebuah titik temu
Tinta hitam yang ku bawa bersama setumpuk buku
Kini menjadi saksi bisu dalam perjalananku
Mencapai nilai sempurna bukanlah hal yang mudah
Tidak cukup dengan membaca dan menulis.
Tak perlu bersandiwara untuk menjadi perwira

Benar, aku memang harus giat
Giat untuk sukses dalam kiat-kiat
Jangan biarkan otak kalian membeku hingga menjadi abu
Asahlah layaknya sebuah pisau yang tajam
Yakin bahwa masa depan ada di depan mata.

(Oleh: Eersta Tegar Chairunissa)

Mimpi dan citaTersenyum aku menahan getir dan rintihan jiwa
Sebab impian dan cita-cita terhenti
Oleh ketidak mampuanku dan tiadanya dukungan orangtua
Kusimpan mimpiku setelah lepas masa Putih Abu

Perjuanganku belum berakhir
Walau setitik harapan sudah kudapat
Pada Kota penuh cahaya ini
Aku datang untuk pergi, berkelana merajut cita

Baca juga: Kata Kata Senja: Perihal Kamu, Kenangan dan Rindu
Tentang semua mimpi dan cita
Takkan pernah ada kata menyerah
Meski berpuluh kali aku telah jatuh
Berpuluh kali pula aku bangkit lagi

Di atas tanah Bumi Pertiwi aku melangkah
Di atas tanah ini pula ku berbakti, menuntut ilmu
Akan kutunjukkan pada Dunia, aku bisa
Aku mampu meraih mimpi dan cita-citaku, di Indonesia.

(Oleh: Elisabeth Yofrida)

Hanya pendidikanManusia berakal yang jauh dari moral
Tercemari udara kontemporer
Sudah jauh dari norma dan aturan
Siapa lagi yang bisa selamatkan

Selain tanaman pendidikan
Kelak manusia akan paham
Bahwa dirinya bukan apa-apa
Jika hanya ingin menikmati
Tanpa berusaha mati

Dengan pendidikan manusia akan tahu
Bahwa berakit itu ke hulu
Dan berenang ke tepian
Dengan pendidikan manusia akan sadar
Bahwa mimpi harus terus berakar
Untuk mencapai hidup tanpa samar
Hanya dengan pendidikan
Seluruh makhluk terselamatkan
Cinta dan kasih bertebaran
Hanya pendidikan

Bunga yang terus bermekaran
Harumnya semerbak bertebaran
Hanya pendidikan
Mampu selamatkan pergaulan
Mencapai mutiara masa depan
Hanya pendidikan
Selamanya hidup aman.

(Oleh: Salma Salsabila)

Semangat baja pemuda bangsaKini kerusuhan tlah jadi ketenangan
Pembantaian tlah jadi perdamaian
Hitam-putih sudah berwarna-warni
Kini negeri ini tlah berevolusi

Dan kini kitalah penerus mereka
Tak perlu di medan perang
Hanya perlu di ranah pendidikan
Mengukir prestasi, harumkan negeri ini

Kumpulkan segudang ilmu
Gunakan otakmu sebagai ruang alam pikiranmu
Perbaiki jalan pikiranmu yang buntu
Sadarkan pikiran dan hatimu yang kosong

Ayo satukan seluruh warna!
Kokohkan yang tlah satu
Jangan bilang tak bisa sebelum mencoba
Jangan lemah tak berdaya setelah jatuh

Bangkit dan bergerak!
Tunjukkan pada dunia bahwa kita bisa!

(Oleh: Nuraini Fitri)

Lentera pendidikanLangkah kaki menapaki jalan
Tak tahu arah tujuan
Bagai hidup tak berpedoman
Seperti hidup dilanda kebodohan

Hidup tanpa ilmu
Bagai rumah tak berlampu
Gelap bagai abu
Seperti bayangan yang semu

Pada siapa ku bertanya
Tentang arti hidup yang sebenarnya
Ketika ilmu tak kupunya
Pendidikanlah yang menjadi jalannya

Cahaya di tengah kegelapan
Menerangi setiap kehidupan
Menumpas segala kebodohan
Yang merusak masa depan

Semangat dalam meraih asa
Tak pernah lelah dan putus asa
Berdoa pada Sang Kuasa
Sebagai generasi penerus bangsa.

(Oleh: Putri Tarisa Dewi)

Asa siswaIndahnya sekolah menengah
telah pun berlalu
semua lelah
sirna
tiada tersisa

kini,
masa telah berbeda
bangsa menanti
jati diri terus terpatri
untuk mengabdi pada negeri
tiga tahun berlalu

mahasiswa,
ya, itu asaku terus menggebu
kini ku tak lagi pakai seragam abu-abu
tapi aku tetap malu
sebab diri tak juga mampu
ukir rasa
bangga

kuingin rajut
impian
penuh harapan
semangatku pahat
beralas juang

betapa bangga
orang tua
pada jiwa
yang telah jadi dewasa
tapi apalah daya
aku
baru memulai asa
jadi mahasiswa

selagi kecil berusia muda
kiri kanan hamparan senja
jangan lengah
kerlipnya madah
itu hanya pelipur lara

kenang tak berkenan
harus dikenang
itulah jiwa petualang
harus terang
tenteram
tanpa geram
apalagi dendam
asaku hanya
jadi mahasiswa.

(Oleh: Rabiah, M. Pd.)

Sejatinya pendidikanTelah sejarah riwayatkan dalam sebuah mozaik destinasi
Tujuan luhur, agung nan bijaksana
Mencerdaskan kehidupan bangsa seutuhnya

Ia yang sejatinya bukan sekedar hak yang harus diterima
Melainkan adalah tulang punggung yang menentukan nasib
Pola yang menentukan karakter bangsa

Bocah lugu terlahir dari bijana terdalam
Berlari riang, bermain ke-sana ke-mari
Menyunggingkan senyum manis di kala guru tiba

Kerinduan itu kini sedikit telah terobati
Sederhana memang
Sederhana yang kadang terabaikan
Mereka ingin tahu, ada apa di sana
Mereka ingin paham, mengapa begini
Mereka ingin mengerti, mengapa mereka ada
Mereka ingin mencari apa tujuan mereka
Dan kadang mereka ingin tahu apa sejatinya yang mereka lakukan

Selaksa air yang melegakan dahaga
Mengubah horizon kemarau
Menjadi subur pengetahuan dalam kebijaksanaan.

(Oleh: Putri Anugerah)

Lelang pendidikanPendidikan…
Kata yang didengungkan oleh banyak kalangan
Katanya
Pendidikan itu tak memandang latar belakang
Namun, apalah daya
Itu ‘cuma’ slogan
Entah jaman yang telah berevolusi
Atau sedari dulu tetap begini

Baca juga: Kumpulan Puisi Guru Singkat, Guruku Tercinta: Pahlawan Tanpa Tanda Jasa
Pendidikan adalah hak setiap warga
Namun, mana buktinya
Kami beli, kami juga yang menjual
Itu kata yang sering terlontar, dari orang yang katanya berpendidikan
Kami beli mahal, maka kami juga mendapatkan yang mahal

Pantas saja jika negara ini tak mencapai kejayaan
Kelakuan orang orang berpendidikan tak lagi bisa di harapkan
Pendidikan investasi masa depan
Namun, bukan berarti pendidikan sebagai alasan untuk meraup pajak besar-besaran
Bukan pula sebagai alasan untuk meletakkan kaki di atas hidung anak jalanan

Mau sampai kapan, pendidikan akan terus dilelang
Hingga rakyat kecil musnah dengan perlahan?
Atau hingga jas mengkilat tak lagi muat dikenakan?

Tak hanya tuan yang membutuhkan
Tapi, kami juga tak meminta
Karena kami tak sanggup jika harus bermain lelang
Dengan apa yang seharusnya kami dapatkan.

(Oleh: Ahmad Latiful Ansori)

Senandung literasi

Senja ini semburat merah mewarna langit yang abu
Anganku terbang pada masa belajar mengeja
Kala itu, aku tersenyum mendengar dongeng pelajar nusantara
Sang penakluk bukit, penyisir sungai yang handal
Para pengejar ilmu, penggerak peradaban

Teruntuk pencinta ilmu
Membaca adalah bukti rindu yang menyeruak
Memaksa mata terkunci dengan baris dan baitnya
Lantas waktu bertransformasi jadi anak panah berkecepatan tak hingga
Dunia memang tak menjadi milikku, tapi aku mencipta duniaku sendiri

Aku ingin berkata lewat aksara, goresan pena
Merapal doa dan nasihat untuk maslahat
Diam untuk membaca, berkata untuk bercerita
Sebab literasi tak melulu tentang seni, tapi juga keinginan berbagi

Tinta senja adalah katalis bagi zaman yang tengah miris
Malam segera tiba, tapi fajar pasti menyingsing setelahnya
Maka mimpi dan usaha harus digerilya demi mentari yang lebih jinga.

(Oleh: Anisah Izdihar Nukma)

Peti sejuta mimpiMimpi ini terasa terkubur begitu dalam
Begitu dalam sampai tak bisa tergali
Ingin ku keluarkan mimpi-mimpi itu sekarang

Tapi itu tidaklah mudah….
Butuh sejuta peti emas untuk menggali mimpi itu
Itulah mahalnya pendidikan
Begitu mahal sampai harus mengubur mimpi ini.
Sungguh ku butuh peti emas itu

Apalah daya, mengisi perut keroncong pun sulit
Apakah hanya mimpi seorang anak pejabat yang bisa tumbuh?
Apakah niat tidaklah cukup tanpa sepeti emas?
Zaman yang begitu kaya….

Bukan karena kebodohan kami tidak bisa menggapai mimpi kami.
Tapi karena peti emas yang tidak bisa kami dapatkan.
Begitu kaya karena sejuta mimpi yang terkubur dengan sejuta peti emas.
Lebih baiklah tak perlu bermimpi,
Daripada bermimpi tapi harus terkubur jua.

(Oleh: Annisah Fatona)

Jam kosong kami bahagiaBetapa bahagia kami
Jam kosong tak ada guru terasa lagi
Telah menjadi tradisi; lumrahnya kami
Merekah senyum bahagia sana sini
Dan di sudut kiri
Guru mulai menyibukkan diri; melupa kepada kami

Ada yang membangkit senyum dari tidurnya
Ada yang membaca buku lalu menertawakannya
Ada pula yang mencela, pada daftar nama yang tertera

Begitulah kami
Pelajar generasi negeri ini
Yang gembira tiada henti
Kala jam kosong tak terganti.

(Oleh: AR. Izzal Muflihin)

Ironi pendidikanUntukmu yang mengenyam pendidikan…
Di saat kau diberi kesempatan
Mengeja hal istimewa bernama pendidikan
Di saat yang sama kau malah menyia-nyiakan

Kau terjerembab dalam kenyamanan
Sekelilingmu pun kau abaikan
Bukankah pendidikan mengajarkan kepedulian
Ataukah kita yang terlalu asyik dengan keegoisan

Sadarilah di sisi lain, ada hati yang mengebu-gebu
Mendamba hal termewah yang kau jadikan sia-sia
Bangkit, lawan rasa malas dan keegoisan yang menggerogotimu
Atau kau terlarut dalam dunia yang menjadikanmu tak berguna.

(Oleh: Marleni Putri Bulawan)

BukuBuku adalah jendela dunia…
Membaca membuat kita pintar
Memahaminya membuat kita sadar
Bahwa bumi tidaklah hanya alam sekitar
Banyak pemahaman di dalamnya
Banyak pengetahuan isinya

Melalui buku kita tahu segalanya
Melalui buku kita bisa menjelajah angkasa

Buku…
Banyak sekali jasamu
Isi perut Bumi pun bisa kutahu
Hanya dengan membaca dan memahamimu
Tak pernah kuselami lautan luas
Tak pernah ku jelajah Kutub Utara
Namun melalui buku aku bisa tahu

Hanya dari buku aku merasakan
Berbagai makhluk yang tinggal di lautan
Dinginnya udara di kutub sana
Terima kasih untukmu buku
Telah membuka wawasanku
Serta mengajari aku berbagai ilmu.

(Oleh: Ari Maulana)

SekolahkuEngkau hanya seonggok batu yang termakan debu
Tapi tak ada jemu dalam jembatan ilmu jantungmu mendenyutkan cerita
Semangatmu mengucap cita cita
Dan hadirmu selalu terkenang

Kisah penting bermula dari bangkumu
Yang terbaik melangkah melalui tapak jalanmu
Gelak tawa maupun sendu yang hadir
Menjadi lembar pembuka tabir

Di tempat engkau berdiri
Jutaan pelita menyembul untuk negeri
Jembatan masa depan yang menyambung
Sekolahku, namamu akan selalu bergaung.

(Oleh: Diyah Rachmawati Tohari)

 

Pendidikan pengentas kemiskinan (?)

Kau bilang pendidikan itu jalan mengentas kemiskinan
Padahal untuk mengenyamnya saja kami harus bayar
Uang kami digerogoti layaknya ulat memakan daun
Tak peduli kami mampu atau kesusahan mengejarnya

Dibuatnya kami percaya akan janji-janji pendidikan
Kau bilang lulusan pendidikan mudah dapat pekerjaan
Nyatanya selepas wisuda terlalu banyak pengangguran
Janji-janji itu seolah mantap, mirip orasi calon pejabat

Tapi kau masih kukuh
Kau tetap bilang pendidikan pengentas itu kemiskinan
Kau memberi bukti lulusan yang menawan
Diperlihatkan jabatannya, hartanya dan penampilannya
Lagi-lagi, dia adalah seorang pekerja kantoran

Lalu, apakah pendidikan hanyalah batu loncatan
Kusebut demikian karena kami hanya berpindah
Berpindah tanpa arah dari satu gedung ke lainnya
Gedung itu bernama pendidikan
Kemudian bermuara ke perusahaan, juga pemerintahan

Jadi ini?
Ah bagiku tetap saja pendidikan bukan pengentas kemiskinan
Jika harta yang kau maksudkan, cukuplah berniaga
Berniaga membuat seseorang cepat kaya
Kau tak perlu pendidikan untuk harta
Pendidikan hanya akan menggerogoti kekayaan

(Oleh: Tsurayya Maknun)

Sarjana muda@qqiie_21
Agen perubahan
Berjalan tegap menjelajahi aral rintang
Berkemeja rapi dalam penampilan
Mereka bilang, mereka pembawa perubahan
Entah perubahan apa yang dimaksudkan
Tetapi sejak dulu itu jadi tujuan

Status mahasiswa mereka sandang
Jenjang tertinggi dalam pendidikan
Tak hanya sarjana, magister, doktor, bahkan profesor jadi bagian
Dielukkan sebagai pembawa kedamaian
Lewat baktinya meluruskan janji-janji bualan

Setidaknya dengan harapan
Tiada lagi anak memegang gitar di tepi jalan
Tidak ada lagi anak menengadahkan tangan dengan wajah memelas di emperan
Wahai mahasiswa yang katanya pembawa perubahan
Bawalah anak-anak tadi dalam pelukan pendidikan.

(Oleh: Zahrani Ismi Aisyah)

Generasi Indonesia di negeri orangMembuka cakrawala
Mengenal alfabet Indonesia
Kala lidah sudah terbiasa dengan aksen Amerika
Ku tau engkau sedang tertatih mengeja buku
Bukan bei-yu bu kei-yu ku
Namun be-u bu ka-u ku

Kau lahir, hidup, dan tinggal bukan di negerimu
Generasi ketiga dari para perantau yang memilih menetap dan berhikmat
Semua tentang negerimu hanya kau dengar dari cerita gurumu di kelas, atau kakek nenekmu di rumah yang mulai lupa akan bahasa Indonesia

Aku tau, rindumu pada negerimu begitu besar Setiap hari kau bertanya seindah apa negerimu
Meski kau tidak puas dengan jawabanku, kelak dewasa kau akan
menemukan jawaban atas pertanyaanmu sendiri
Setiap hari kau berinteraksi dengan orang tempatan yang berbeda adat dan budaya

Di sekolah kau diajarkan budaya Indonesia, sopan santunya, ramah tamahnya,
serta gotong royong melalui pembiasaan-pembiasaan yang gurumu terapkan
Terkadang aku kesal saat kau bertingkah yang tidak mencerminkan karakter negeri kita Tapi aku tau, kau sedang belajar menjadi Indonesia
Memberi dan menerima dengan tangan kanan, bukan kiri

Meski belum sekalipun kau hirup udara negerimu
Meski belum sekalipun kau injakkan kaki di tanah negerimu
Kelak, masuklah ke dalam barisan orang-orang yang berbakti untuk negeri
Gunakan jiwa ragamu untuk membangun negeri.

(Oleh: Yunia Tiara Riski)

Puisi Pendidikan Karya Norman Adi Satria

Sajak Ujian NasionalBila harinya tiba
Tiba-tiba kita baru sadar bahwa inilah harinya
Belajar 9 cawu atau 6 semester
Hanya ditentukan ketuntasannya
6 hari dalam seminggu
Kalau gagal, bisa fatal
Mengulang, menanggung malu
Meninggalkan, sama saja membuang masa depan
Sedangkan kita punya mimpi-mimpi
yang terlanjur ditargetkan

Lalu kita terhasut aneka wacana
Bahwa ujian nasional
bukanlah penilaian bijaksana
Ini salah pemerintah
Ini salah menteri
Ini salah presiden
Ini salah bapak ibu mengapa menyekolahkan
Kita tidak merasa salah

Dengan dalil kenakalan remaja
memang harus dialami ketika remaja
Kalau ketika dewasa itu disebut kenakalan dewasa
Oom atau tante nakal misalnya
Karena berpusing dengan aneka pikiran
Malam tak bisa membawa kantuk
Esok pagi datang ke sekolah
Dengan tangan berisi pensil 2B

Tapi pikiran kosong
Ketika melihat soal ujian
Pusing tiba-tiba menyerang
Untung akal muslihat masih terang
Lebih baik menjatuhkan badan di ruang ujian
Dan teriak-teriak meniru suara harimau atau kadal
Yang penting judulnya kesurupan
Esoknya kita melihat akting kita di layar kaca

Jadi berita
Bukankah belajar itu tidak gampang?
Tentu, bagi orang yang tak perlu ilmu
Tapi menceburkan diri ke bangku sekolahan

Bekasi, 23 Desember 2012
Norman Adi Satria

Puisi Pendidikan tentang Mimpi

Mengejar Mimpi

Karya: Mohammad Sya’roni

Bilamana mentari bangun pagi
Ku telah berlari memulai hari
Mentari tersenyum menyemangati
Diiringi syahdunya merpati bernyanyi
Walau kerikil tajam ku temui
Walau angin pagi menusuk ulang ini
Walau hujan memandikan diri ini
Walau ransel membebani raga ini

Namun tak menyerah diri ini
Semakin kilat lari ini
Tuk menuju sekolah yang menanti
Tempatku menuntut ilmu tuk nanti
Walau kadang tak paham ilmu ini
Ku tanyakan pada guru tiap hari
Walau tugas menumpuk tanpa henti
Tak kenal lelah ku kerjakan semua ini
Ku takkan menyerah mengejar mimpi

Walau badai kehidupan melempar diri ini
Ke lautan putus asa dan malas diri
Namun ku bangkit lagi mengejar mimpi
Dengan doa dan usaha ku kejar mimpi
Dan tawakal pada sang illahi
Ku jadikan pelecut tuk mengejar mimpi
Demi masa depan yang syahdu nanti

Malang, 15 April 2017
Mohammad Sya’roni

Puisi Pendidikan Bertema Guru

Guru adalah Kunci

Karya: Meghana Taylor

Judul Asli: Teacher
Guru adalah kunci
Yang membuka wawasan
Kau yang menjadi petunjuk untuk membentuk cara pikir
Kau adalah satu-satunya
Kau bak penggembala
Yang menjaga domba-domba tetap di jalurnya

Kau, guru, membalik halaman
Dari sebuah buku besar
Kau mendidik kami
Terima kasih guruku,
Telah mendidik kami
Dari sekumpulan manusia, engkau istimewa

Puisi Hari Pendidikan Nasional

Hari Pendidikan nasional

Karya: Anonim

Jika kau lihat bendera merah putih berkibar di halaman sekolah
Belum tentu di sana ada orang Indonesia
Jika kau dengar Pancasila dibacakan berulang-ulang,
Belum tentu semua yang mendengarnya punya Tuhan Yang Maha Esa
Jika kau lihat Pak Guru pakai sepeda Kumbang,
itu pasti kau sedang mimpi bertemu Oemar Bakri

Jika kau lihat anak sekolah memakai seragam,
Pastikan tubuhnya tak tampak oleh umum
Jika kau lihat guru memukul muridnya, itu biasa
Jika kau lihat sekolah-sekolah negeri dan swasta jauh berbeda,
itu karena sekarang pendidikan pun menjadi ladang bisnis
Jika kau lihat Politisi berjanji tentang pendidikan murah dan cerdas,
Lihatlah, pendidikan pun didramatisir

Puisi Bertema Pendidikan Perpisahan dengan Guru

Rindu Guru Tercinta

Karya: Greety Marbun
Di keheningan malam yang gelap
kau beriku obor kehidupan
Meski hanya bertahan satu malam
Namun berguna untuk kehidupanku

Di teriknya panas siang hari
Kau beriku keteduhan
Meski hanya sekejap kurasa
Namun selalu kurasakan dalam hidupku
Jasa yang setiap kau lakukan
Tak ubahnya kasih sayang

Tak pernah mengharap balas
Karena kau pahlawan kehidupan
Baru kusadari
Betapa beratnya kau menjadi guru
Butuh waktu dan tenaga super
Karena muridmu kini sudah menjadi guru
Sepertimu…

Demikianlah tadi beberapa contoh puisi dari beberapa sudut pandang tentang pendidikan. Pendidikan adalah bagian dari kehidupan semua orang. Bagaimanapun proses yang terjadi, tujuan pendidikan adalah menjadi mimpi indah bagi semua orang yang menjalaninya. Semoga puisi pendidikan tersebut dapat mewakilinya. Sekian dan Terima Kasih.


Pencarian terbaru:
  • puisi pendidikan moral
  • puisi pendidikan nasional
  • puisi pendidikan pendek dan singkat
  • puisi pendidikan sd
  • puisi pendidikan 2018
  • puisi pendidikan chairil anwar
  • puisi pendidikan 4 bait
  • puisi tentang pendidikan pemuda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *