Puisi Roman Picisan

puisi roman picisan romantis

Puisi Roman Picisan adalah sebuah sinetron yang tayang di RCTI layar kaca Anda. Sinetron ini banyak disukai oleh kalangan anak muda karena ceritanya yang menarik dan kisah tokohnya yang sangat romantis.

Sinetron ini mengisahkan tentang Roman Picisan (Pemeran : Arbani Yazis) yang jago membuat puisi-puisi gombal untuk para cewek. Selain itu Roman juga memiliki wajah yang sangat tampan dan juga hati yang baik. Tak heran banyak cewek di sekolahnya yang takluk dengan berbagai kelebihan Roman tersebut.

Dalam adegan-adegannya banyak sekali menampilkan kata-kata maupun puisi roman picisan yang indah itu membuat baper para penontonnya. Siapa saja yang mendengarnya bisa langsung klepek-klepek bikin hati langsung meleleh , hehe lebay. Di dalam sinetronnya digambarkan roman picisan adalah orang yang suka menggombal, karenanya dia suka memberikan kata kata gombal kepada lawan mainnya.

Salah satu Hal yang membuat sinetron Roman Picisan semakin menarik adalah Puisi Cinta yang selalu diselipkan pada setiap episodenya yang memiliki kata-kata super romantis hingga membuat para penonton ikut baper mendengarnya. Berikut adalah kumpulan puisi Roman Picisan yang paling romantis untuk meluluhkan hati pasangan.

Baca juga: Kumpulan Puisi Galau karena Cinta yang Sangat Menyentuh Hati

Puisi Roman Picisan Tentang Cinta

Cinta Itu Tak Pernah Salah

Jika cinta itu sungguh mencinta, dia pun tidak pernah meminta
Jika cinta itu sungguh berharga, dia pun tidak pernah memaksa
Bahagiamu adalah segalaku, senyumanmu ialah harapanku
Walaupun bahagiamu dan senyumanmu tanpa ada hadirnya diriku
Tuhan izinkanlah aku untuk berteriak, karena kau memberikanku keberhasilan yang begitu mutlak
Kau ciptakan bulan purnama, dan kuterima kemenanganku
Untuk aku persembahkan kepadamu
Aku menyadari semua ini bukan hebatku, tapi ini semua adalah pertolongan dari Tuhanku
Yang paling menyakitkan adalah cinta tanpa restu
Keinginanku adalah untuk bersama namun tak boleh bersatu
Sesungguhnya hati tak pernah mati, namun dia hanya tak mau membuka pintunya untuk lain hati
Cinta itu tidak pernah salah, tapi cinta juga tak selalu indah
Cinta itu tidak pernah menyiksa, hanya ia menguji rasa
Cinta itu saling menerima satu sama lain hingga bisa bertumbuh bersama
Senyumanmu membuatku semakin rindu dan ingin cepat pulang ke pelukanmu
Aku ingin menjadi tempatmu berkeluh kesah bukan hanya sekedar singgah

Wulandariku

Taukah kamu hatiku selalu ramai akan kalimat kerinduanmu
Jangan kau biarkan aku bergulat dengan rindu,
Yang selalu rindu tentang dirimu
Asalkan kau tau, merindukanmu membuatku meluluhkan semua egoku
Ada yang tau dimana rindu? hari ini sabtu, dan sebentar lagi kita bertemu
Wahai wulandariku
Selamat malam dan selamat tidur, aku masih di luar menunggu kau bukakan pintu mimpimu
Agar rinduku dan rindumu ini selalu saling mengobati
Wahai wulandariku

Cinta Membuatku Takut

Cinta ini selalu membuatku penakut
Aku takut terbang bebas ke angkasa
Jika nantinya terhempaskan oleh angin tanpa pamit
Aku takut
Jika nanti terbuang dan tanpa adanya kenangan
Karena aku sadar, kamu terlalu sempurna untuk ku dapatkan
Kamu terlalu hebat untuk aku cinta
Sedangkan aku hanya manusia biasa
Dan aku sakit, karena raga ini masih ku tangani
Yang bisa aku lakukan hanyalah bersyukur
Karena sesakit apapun itu akan kalah dengan sekeping perih dihati
Apa inikah yang dinamakan patah hati
Apalah daya ragaku ini
Yang kan kujalani semua ini dengan hati

Penghujung Senja

Di penghujung senja yang hampir hilang
Kini tetap aku genggam rasaku
Walaupun tak punya kesimpulan tentang rasamu
Dan aku hanya mampu meratapi rasaku
Berdoa dan selalu mendoakan agar munculnya rasamu
Terkadang aku merasakan sakit
Namun rasa yang lebih menyakitkan
Adalah hilangnya hak untuk menyapamu
Adakah rindu yang melebihi rasa piluku
Yang membuat sesak hati ini

Kecewa

Ketika pipi ini kau tampar, saat itulah rasa ini menggelepar
Romansaku tiba-tiba merasakan duka, ketika melihatmu pergi bersama dia
Aku tak tahu lagi harus kemana cintaku ini berpijak, ketika kamu pergi tanpa meninggalkan jejak
Aku adalah manusia biasa dan jauh dari kata sempurna. Aku pun pernah berbuat dosa, namun aku tetap berusaha agar tidak ada lagi kebohongan diantara kita
Namun kejujuranmu kini engkau dusta, luluh lantak asaku jika ucapku tak lagi engkau percaya
Rasa ini mengiris hatiku, menghujam jantungku, wahai sang pemikat jiwaku. Tak ku sangka begitu besarnya artimu hingga tak pernah kukira diammu merempas semua kebahagianku
Kamu adalah keindahan di hidupku, mataku selalu tertuju padamu
Menghindarimu sungguh bukan keinginanku
Namun raga ini aku paksa untuk setuju meskipun perasaanku menagis pilu
Hingga kini aku juga tidak tau, aku hanya mengkhawatirkanmu. Karena air matamu selalu aku saksikan ketika aku hadir
Namun aku putuskan menyingkir, agar senyummu kembali terukir

Puisi Roman Picisan Mengenai Kencan

Gincu Merah Menyala

Rona kemarahan dari bibir yang sangat mencolok
Membuat cantikmu semakin menonjol meskipun kau hanya satu di hatiku
Terbesit tanya mengapa kau terus berganti setiap hari
Memamerkan setiap pesona yang membuat aku semakin menjadi lemah
Berada didekatmu adalah satu-satunya alasan aku kembali bangkit
Ketikan malam yang tidak terpejam dan kokok ayam datang teramat cepat
Kekuatan terbesar untuk tidak datang terlambat
Cinema tiga berbaju merah
Entah tanda kencan apa yang begitu aneh
Aku ingin bersamamu dari depan pintu
Cinema tiga bergincu merah
Setiap pesonanya berawal dari ruang gelap ini
Hari ke enam pada hitungan minggu

Kupu-kupu Berdosa

Suhu tubuh drastis meningkat
Saat jarak kita tiba-tiba begitu dekat
Hempasan nafasmu teramat merdu, pada bawah pohon yang menjadi pusat perputaran
Jalan setapak muat untuk berdua
Kita berjanji untuk berkeringat bersama melaju cepat melawan rasa malas
Kupu-kupu berdosa
Memaksa aku hanya selebar ini bersamamu
Dengan dua jari yang menempel di hidungku dengan hidungmu
Teramat dosa untuk aku bertahan lebih lama
Kupu-kupu berdosa dengan aku yang memiliki lebih banyak koleksi kejahatan
Terimakasih
Pertama kali momen ini kami dapatkan
Terimakasih perlahan kau dan aku mundur menuju ke space yang aman

Lilin Di Meja Itu

Sinaran itu kecil pada mulanya
Berpendar indah, memamerkan semua yang iya miliki
Berusaha memancing sejuta mata
Hingga lupa diri dan mati
Bagi mereka yang mengartikan segala sesuatu dengan hiperbola
Semua akan terlihat terlalu dan dibuat agar membekas seperti itu
Ah tidak
Lilin di meja itu
Perantara aku menuju matamu
Seolah tabir tipis untuk kesekian kalinya senyum itu memberikan mawar yang bermekaran
Merajut kedekatan hingga terasa erat
Selesai bibir terkunci, padam pula nyala api
Selesai sudah
Mari ku antar kau pergi

Memburu Kasih

Samar aku mengikuti sisa aroma yang kau tinggalkan
Menyusuri jalan yang sama setelah bertahun berlalu
Banyak yang masih aku kenali meski semua tidak sama lagi
Tentunya bayanganmu yang tidak berbeda dari dahulu
Kejar mengejar
Rayu merayu
Putaran film pendek kita menjadi teman di setiap sudutnya
Tikungan kita bersembunyi
Dan menghadap langit untuk mengucapkan janji
Kala itu
Saat semua memaksa untuk terhenti
Aku berjanji untuk kembali lagi
Sedikit penghianatan telah aku maafkan
Kau milikku
Peluk aku kembali dalam perjumpaan setelah lama kita menyudahi

Aku Menunggu

Pertanda itu tak kunjung datang
Mengintip melalui celah, memastikan sekali lagi
Membuat diriku terlihat dalam tampilan terbaik
Aku masih di sini menunggu satu hati mengetuk pintu
Namun liar angan telah melambung pergi terlalu jauh
Dalam cemas aku mencoba terlihat tenang
Akan kah ini menjadi kencan tunggal kembali
Hatiku hatimu bertautan
Ku kira aku tidak perlu sangsi
Saat waktu terus membuatmu berhalangan
Mungkinkah hari ini akan ku petik kecewa
Sorot lampu memantul genangan air sisa hujan
Masuk menerobos jendela yang ku buka dari pagi hari
Dia turun
Aku berjingkat girang

Puisi Roman Picisan Tentang Rindu

Setengah Abad

Bila lah mana aku harus kembali menunggu
Untuk satu hari atau setengah abad lagi
Bahwa itu tidak ada beda meski mengenai waktu
Itu akan sama dengan sakit yang serupa
Tentang nafas yang seperti tidak menghidupi
Bagai seribu lampu yang tetap membuat gelap malam-malamku
Bila lah mana aku harus menahan rindu
Kepada kasih lama tak bertemu
Mungkin kawanan angsa lebih bahagia dari manusia
Mereka selalu bersama kemana-mana
Atau, kepada kumbang yang melebur
Aku sirna karena wanginya
Kepada bukit saksi purnama, melebur lah bersama rasa ingin bertemu ku
Membawa serta iya yang berada di balik badan tinggimu

Membelah Bumi

Langit doaku menjulang tinggi
Ucapan yang menyebutkan namamu selalu ikut menyertai jalannya
Menembus awan-awan yang menutup cahaya langit pagi hari
Ku bawa namamu terus tebang meninggi
Menjuntai menitipkan kehilanganku untuk kepergianmu
Berkelok, berkeliling, mengudara
Membelah bumi pemisah
Tidak peduli berapa ratus kata selamat tinggal
Aku akan selalu membalas dengan ucapan cepat pulang
Untuk nantinya aku akan lebih percaya
Bahwa pengaduanku pada-Nya akan lebih ampuh dari banyaknya pesan cinta
Membelah bumi merangkul kau kembali
Melakukan perjalanan panjang hingga langit tertinggi
Mengabarkan pada alam raya
Aku milikmu
Dan selamanya akan terus seperti itu

Menjadi Linglung

Mataku menatap nanar pada sekeliling
Ruang-ruang kosong yang seketika menjadi hampa
Kepada bunga-bunga mekar kehilangan warna
Dan hujan yang tidak lagi mampu untuk membasahkan
Selamanya aku berusaha mengucap satu nama
Indah paras dan telah ku kenal lama
Di jari itu melingkar sebuah cincin bermata satu, aku mengingat aku yang memberikan di hari paling berbahagia di hidup ku hidupmu
Aku selalu ingin terus mengucap satu nama
Bukan, bukan nama itu
Aku mengingat potongan banyak peristiwa
Tapi tidak dengan nama itu
Rindu..
Aku ingat semuanya kecuali namanya

Teropong Hati

Terbekalai dengan teropong hati
Membuat bayangmu yang jauh seolah di depan pelupuk mata
Membuat aku yang sendiri merasa sedang berdua
Terbekali teropong hati
Mimpi indah menjadi pelebur lara yang semakin menyiksa
Aku dalam peluk rindu bayangan yang semu
Tercekik oleh rasa yang tidak ku undang datang
Berlari seorang diri untuk menemuimu dalam tidurku
Bersujud dan meminta belas kasih
Teropong hati
Membuat aku melihat kau lebih dekar
Teropong hati sampaikan rinduku yang tak kuat ku bawa sendiri

Kejora Impian

Hampir kehilangan akal sehat
Aku memohon kepada bintang yang tergelincir dari langit
Dosa… bisikku
Sampai wajahmu menjadi merah menyala
Berkobar dalam kemarahan
Bersembunyi dalam rasa bersalah aku berusaha berpaling
Pada tempat asing semua terlihat bercahaya meredup
Kerlap kerlip lampu bagaikan kunang-kunang menuntun
Melewati sebuah lorong yang semakin menjadi terang
Terikuti bayangan kemarahan aku akan mencoba pergi
Membisikkan doa pada kejora aku tau kau akan murka
Pesan sampaikan rinduku bukan amarahmu
Lalai kejora mengabulkan permohonan
Seperti ia di gunakan untuk melempar pencuri dengar
Aku terperanjat jatuh dari dipan ku

Tertipu

Seperti tertipu aku harus merelakan kau mengambil lebih dari ku
Mengeruk semua yang aku punya dengan tetap aku berlutut
Tidak sedikitpun curiga, ah.. kurasa aku salah menduga
Bahwa dingin dan panas tidak terikat kerja sama
Bohong
Kau mengambil lebih dari ku
Dari jumlah yang telah aku ulurkan
Dari nominal yang kau ajukan
Setelah hatiku yang kau bawa pergi
Kini apa lagi?
Kurus tenggorak menonjol seperti memberikan saksi
Kau dusta dengan apa yang kau setujui
Kau dusta
Bersembunyi di balik kaca untuk terus tertawa
Melihat aku yang terus membuka persimpanan terakhir
Menyuguhkan satu-satunya sisa yang aku miliki
Berakhir sekarang sudah
Tertelan rindu aku tak akan bisa menyentuh udara lagi

Puisi Roman Picisan Hubungan Jarak Jauh

Tabahkan Hati Yang Kalut

Impian itu tidak memiliki celah untuk menyeberang kepada kenyataan
Tetap terjaga sebagai mimpi entah sampai waktu yang tidak lagi pasti
Bila harus aku tersadar
Mungkin aku tidak akan pernah bisa bertahan
Hanya ini tempat pijakan terakhirku setelah bumi melebar
Menjadikan perpisahan seperti petaka
Memahami setiap detik dalam syukur yang terpaksa
Pertemuan menjadi harap terakhir
Mimpi yang agung
Dan cita-cita tidak berbantahkan

Menabung Rindu

Mari sama-sama kita kumpulkan
Percik tangis yang menyuburkan tunas-tunas cinta
Melambai seiring akar menguat
Sama-sama membisu untuk saling mendoakan
Pisah kita terpisah
Langkah tidak lagi bersebelahan
Tempat tidur ini terlalu lebar untuk ku tempati sendiri
Membenamkan dalam malam sunyi dengan pengharapan bara api
Hangatkan hati beku
Dalam kaya
Tabungan rindu

Tertumpahnya Tangisan

Kepada siapa lagi, rintik hujan akan aku tumpahkan
Selain pada kesendirian yang kian kejam menghujam
Melayangkan tatapan tajam pada hati yang melemah
Teramat pedih menunggu janji yang bertempo waktu
Aku memiliki sekeping keberuntungan untuk bertahan
Bila boleh akan ku tukar dengan pertemuan kita
Meski hilang lenyap hidup tak kembali
Keberuntunganku adalah menatap dua matamu
Memiliki jutaan kekuatan bertahan seribu tahun lagi
Aku kuat melawan waktu yang berhianat
Tapi jangan biarkan aku terlalu lama berkutat
Untuk menahan rindu

Bergantung

Terlampau lama, sampai tak terhitung berapa kali matahari timbul tenggelam
Meneduhkan dan mendidihkan lautan
Memberikan harapan serta mengecewakan
Tanda pergi dan juga penanda waktu untuk kembali
Mata yang tertutup hanyallah tabir
Pengaktifan indra lain tanpa perlu meminta ijin
Aromamu mampu ku raba dari kejauhan
Suaramu dapat aku artikan bahwa kau menginginkan aku kembali
Saat mereka berkata jauh itu racun
Maka aku menawarkanya dengan rasa percaya
Saat jarak adalah gulma, mengganggu, menggerogoti
Maka akan ku selesaikan ia dengan doa

Mabuk

Dalam ketidakberdayaan
Aku bernafas penuh pengap, terdengar langkah kaki yang semakin jauh
Kendaraan hilir mudik, meninggalkan sisa rindu semakin menumpuk
Tidak sedikit waktu pun aku beranjak
Aku takut istana dalam hayalanku menjadi rubuh karena gerakku yang tidak lagi seimbang
Berusaha menahan pening, ini lebih ringan dari beban hari seakan tak sanggup ku pikul sendiri
Ingin ku bagi dua bersamamu
Namun, ini masalah waktu
Perbedaan zona
Berbedaan gelap dan terangnya
Tidak sesederhana menuju terminal dan terminal ke dua
Tidak semudah sekali terbang dan aku mendekapmu
Untuk toga yang akan ku jadikan buah tangan
Mabuk aku menahan rindu yang siap menimbunku

Puisi Roman Picisan Kehidupan Masa SMA

Absensi

Bila pun ini tidak menjadi keharusan, aku tidak akan pernah datang lagi
Tidak akan datang ke sekolah yang sama seperti di logo yang tertera di baju yang terpakai
Kenapa tak pernah dulu aku melompat saja saat hari penerimaan itu
Menyeberangi, sedikit berbelok dan berjalan 20 kali langkah kaki
Aku ingin masuk ke sana, duduk patuh dari pagi sampai pagi lagi
Ini hanya tentang absensi
Patuh aku menyimak di sini, lamunanku tak bergerak di sana
Bersama dengan angin yang meniupkan doa
Bersama rerumputan berbisik rindu
Ini hanya tentang absensi
Pertemuan-pertemuan tak semanis yang aku telah prediksikan
Kecerdasanku bermimpi menjadi tumpul karena ucapan tanpa henti yang ia hujani
Iya,iya aku patuh duduk di sini
Berharap waktu berjalan cepat dan mengusaikan aku di sini
Setelah lonceng itu memberikan tanda
Satu kedipan mata aku sudah ada di sana

Pojok Sepi

Bumi adil membagi banyak ruang yang ia miliki
Titik kumpul yang ramai, kau pun boleh ke sana bila kau mau
Tertawa bersama sahabat-sahabatmu dan berharap semua beban akan menjadi kerdil setelah kau kembali pergi
Musik yang mengalun meski tak satupun telinga memberikan ruangnya
Tapi aku tidak akan kau temui di titik itu
Pojok sepi untuk kami, dalam ruang penuh kenangan panjang
Tempat orang-orang pecundang seperti aku memiliki kekuasaan
Saling merangkul dalam satu kali pandang
Melepaskan dan memberikannya lagi dan terus
Dalam pojok sepi
Ketika barisan-barisan rapi pada lembaran-lembaran berdebu tak memberiku sedikitpun arti
Aku sedang melepas rindu
Lewat tatapan mata, tanpa suara
Seperti mengucapkan selamat mengusir penat
Dan aku tidak akan pergi
Pencuri, di balik rak buku aku tidak mengambil ilmu dari dalam rak buku
Aku memilikimu utuh di balik rak buku
Memandang dari jauh dan aku mencintaimu
Ucapan tertelan, selamanya jauh tak akan terjangkau untuk mencoba mencarinya kembali

Hukuman Tiang Bendera

Aku suka hari dimana
Sampai jam pulang anti tidak boleh beranjak dari bawah tiang bendera
Berhadapan dan saling menantang dengan deretan kelas yang salah salah satunya seharusnya aku tempati,
Berisik dari mulut-mulut tak terdidik bagaikan alunan musik mengiringi dua sejoli
Terik yang tidak memberi ampun membuat cucuran keringat mengalir deras
Membasahi setiap jengkal, berkelok dan menjalar membasahi putih yang aku kenakan
Tidak mengapa dengan matahari yang tidak sedikitpun merasa kasihan
Bahkan aku tidak sedikitpun merasakan itu
Panas, hanya jalan titian menuju ke keindahan yang aku tunggu
Keringat, adalah cara untuk mengendus wewangian yang tidak akan ditemui di mana pun
Matahari, sebatas pagar perlindungan bagi bintang yang sebenarnya aku tuju
Liar, pandanganku bergerak ke sana ke sini
Membuat langkah kaki waktu menjadi semain terpacu
Sebuah lesung di pipi yang lembut
Senyum malu menemui ke dua bola mataku
Aku belum mati tapi jiwaku telah pergi ke palukan bidadari
Kepada tiang bendera, aku berkawan dengannya

Menyatukan Tali Sepatu

Suatu hari di awal minggu, dengan seragam putih abu-abu
Sekolah memang ramai,tapi hanya ada satu orang yang menguasai bola mataku dengan pandangan luas
Mahkotanya hanya aku yang bisa mendapatinya di atas kepala
Angin semilir meniupkan rambut yang terikat bergoyang-goyang
Ah.. dia terlalu sibuk untuk menuliskan rumus-rumus yang tidak aku mengerti
Kelas menjadi sepi, pandangan mengarah ke satu titik meski pikiran kami mengembara hingga jauh
Hari ini kelas menjadi angker dengan kedatangan pemuka galak citranya
Aku tertunduk, malas melihat kemana pun
Satu cahaya itu terlalu sibuk untuk menatap ke arahku saat ini
Namun, tidak 15 menit lagi
Bila tangan kita tak lagi saling menggandeng, mungkin aku bisa mencari cara lain
Menyatukan ke dua tali-temali
Mengikatnya erat
Membuat simpul-simpul mati, terus tertunduk dengan lincah jari-jari
Aku mendapatkannya menjadi dekat, sebentar lagi saling menyentuh
Cukuplah kaki yang saling bersinggungan
Sesuai dengan rumus yang diajarkan
Lirikkan itu merajuk, aku menang untuk kesekian kali

Hemat, Katanya

Selain bergandengan tangan di lorong-lorong sepi
Apa lagi?
Kisah cintamu tidak sesempurna itu?
Tidak lebih membahagiakan ketika lonceng berbunyi tiga kali
Atau, saat hujan dalam perjalanan pulang
Tidak ada yang lebih indah dari, tangan yang erat menggengam
Apakah cinta membuat lambungmu menjadi separuh terisi?
Kenyang untuk satu piring nasi berdua sampai pulang nanti
Ah.. hemat, katanya
Bahkan bilah hanya udara yang harus ku telan sepanjang hari
Itu tidak lah mengapa
Memang kita kenyang makan cinta
Bernafas dengan cinta
Dan hidup untuk ia
Kau bilang logika akan terkikis habis jika separuh nafas telah kau jumpai
Hmm. Itu benar adanya, aku sudah cukup mendapatkan seluruh bumi dengan berada di sampingnya
Satu piring untuk berdua, hemat katanya

Puisi Roman Picisan Tentang Cemburu

Terbakar

Bila kau tanya mengapa? Semua tidak akan menyelesaikan petaka
Tak berupa kini ia terlantar dalam keterasingan dan menyepi
Terbesit sesal untuk mengorbankan lelah sekian lama
Tangisan menuntun untuk pasrah, rela dan bersiap untuk lupa
Bila lah mengapa? Semua yang kau berikan tidak akan terlihat oleh dia
Yang kau cinta tidak buta
Sinar lain lebih terang membuatmu tak nampak di matanya
Bila lah mana tak perlu kau risaukan
Pergiku mungkin tidak akan pernah kau sadari
Sadarmu telah terbius, lalai tanpa pernah menoleh kembali
Untuk semua yang pernah terjadi
Kau menganggapmu sebagai mimpi
Pilihanmu mungkin untuk tidak akan bangun lagi

Halilintar Menyambar

Ketidaksukaanku pada kejutan harusnya kau tahu
Berulang, kalimat itu diperjelas
Pun bagi yang menyenangkan, terlebih menyedihkan
Bak halilintar menyambar, serakah, ganas
Menggagetkan jiwa lemah dalam usaha mempertahankan sebuah puing
Tentang ikrar yang berangsur memudar
Tentang janji yang kemudian dikhianati
Mengenai jari yang tidak hanya terikat denganku
Bagiku semua ini masih tentangmu, bagiku
Tidak pun demikian, kau
Berlalu seperti malam yang berjanji kembali
Laksana bintang dengan lantang berusaha untuk kembali terang
Pun, tidak begitu denganmu

Sedekah Sore Hari

Sulit
Mengimbangi betapa kau berwatak derma, memberi bagimu adalah detak jantung
Melangkah untuk berbagi, hidup pada kebaikan
Sulit
Melupakan setiap budi penuntut balas meski ia terdiam
Merangkul dendam agar menyatu bersama impian
Sulit
Sedekahmu sore ini
Seperti kau sengajakan disaksikan merah memudar di kejauhan
Alam raya yang tenang menjadi latar terbaik pemberian, bukan untukku
Separuh potongan hari bukan pemberian menyenangkan, untukku
Sulit
Kepada dia telah memiliki potongan seperti yang aku miliki

Langkah Menyimpang

Dunia tidak hanya satu jalanan lebar dan terbuka
Lurus tanpa kelokan dan simpangan
Mudah tanpa cobaan dan tangisan
Langkah menjadi mudah goyah, dalam panas membuat semangat menguap hilang
Aku adalah peri dengan sayap kau potong paksa ketika aku mampu terbang tinggi
Satu buah tragedi langkah menyimpang bercabang dua
Aku
Tidak akan pernah mampu terbang tanpa sayap kau bawa serta
Mencoba belajar berjalan seperti manusia
Aku tidak berpindah
Menatap langkah kaki bercabang dengan aku yang masih kau genggam
Perih semakin waktu semakin memburu
Bahwa aku mungkin akan hancur saat langkah yang kau bawa semakin manjauh
Terbelah, aku di jalan pilihan kita
Dan kau yang menarik aku dalam persimpangan melupakan segalanya

Yang Lebih Merdu

Coret langit berkapas cerah
ipis seperti mudah terbang tertiup semilir mengalun
Nyanyian menjadi lebih merdu
Untuk ku ulang membentuk sayatan hati lebih dalam
Kembali terulang bagai sesak menindih dada
Adalah nyanyian lebih merdu
Dari kicau burung semarak, dari rintik hujan berirama
Deru kapal pelayaran berdua
Nyanyian dengan kata dia di dalamnya
Seperti berada dalam kobaran api
Dalam sekat-sekat menjulang tinggi
Kokoh mengurung, kejam tanpa ampun
Dalam jeruji penjara cincin untuk mengikatku dalam penjara
Ku dengar nyanyian lebih merdu dari kata cinta kepadaku

Akan Jadi Gersang?

Hijau teduh, memberikan kedamaian yang utuh
Tidak ingin pergi, pelataran surgaku ada di sini
Menyuguhkan bunga beraneka warna
Dengan buah yang tidak pernah menua
Subur, rapi tidak ada celah kritik
Kita bekerja begitu sempurna sampai penyusup itu masuk
Tidak akan lagi sama indahnya
Akankah menjadi gersang besok?
Pada hari di mana seharusnya panen raya bersambut
Membuat layu, jauh sampai ke dalam hatiku
Pintu yang sedikit terbuka ku dapati pagi ini penuh sesal
Sekam telah menjadi abu

Tidak Lagi Sama

Lembaran kertas yang tak lagi hanya berwarna merah muda
Tertoreh mimpi dalam khianat, ah mungkinkah
Berharap aku salah sampai sekarang akulah yang salah
Keliru mencari sudut tatap
Salah menentukan arah pandang
Terkesima bukan satu-satunya alasan menorehkan senyum harap
Kepada bunga kau tanam dalam kertas merah muda
Cerita berbeda menjadi dilema
Aku akan kah masih aku yang dulu
Terhuyun mencoba tetap tegar berdiri
Bagi kerlingan ampunan
Sentuhan keputusaan
Suara mengiba, sejurus hati menjadi keras
Yang nampak telah berbeda

Puisi Roman Picisan Kangen

Satu Menit Yang Lama

Rindu, kata yang bertentangan dengan pemberontakan kepada menunggu
Meminta segera tertumpah pada mimpi yang kini terasa tak ringan lagi
Derita yang sama, terulang setiap detik mengusik membawa sakit
Aku tidak mau meski satu menit menanti lagi
Tidak lagi aku mampu bersabar kepada waktu seolah menantangku
Rindu, meski engkau bisu, gerak sukma menyatakan keras tanpa bantahan
Memupuk siksa kian meninggi
Menjemput harapan menuju sorot mata tajam
Saling menyambut, beradu balas jangan sampai lepas

Hitungan Tanpa Rumus

Adakah salah perhitungan yang aku pelajari selama ini
Menekuni angka-angka dan penanda adalah kekeliruan?
Mengapa tidak pernah aku temukan hasil yang sesuai
Dengan ilmu yang selama ini aku kumpulkan dengan penuh kepatuhan
Bila satu hari 24 jam kami memiliki semua
Tanpa satu hariku lebih lama dari itu
Ada sakit yang memaksa untuk lari mendekat
Sebuah perjuangan dengan paksaan harus dientaskan
Membenci semua yang nampak
Memperburuk semua yang indah
Bagiku sempurna adalah dengan bersamamu
Tanpa celah membuat rumusan itu menjadi sama seperti sedia kala
Membuat yang gelap menjadi terang
Bahagia tanpa tapi dan namun

Rona Senja

Guratan rona senja merah lembut
Melukiskan pada langit luas meski hanya di sebagian sisinya saja
Memancarkan sendu semakin membuat aku layu
Sinar menghilang dengan pekat yang semakin mendekat
Persimpangan adalah pilihan, jarak jauh pun tidak lagi menjadi beban
Terlepas semua adalah sungkan
Aku menjauh meninggalkan tatapan indah mengalahkan rona senja
Agenda langkah berat dan hati tertahan
Tertambat di bawah angkasa sumpah kembali terucap
Semakin lama siksa seperti ingin memuat aku jera
Jauh darimu tidak akan pernah indah seperti yang aku bayangkan sebelumnya
Mendekat aku berusaha dekat kembali
Mencari hanya mengikuti jejak samar penuh tipuan diri
Aku merindukanmu
Maka mari sama-sama melangkah maju
Semakin erat
Menjadi semakin rapat

Jalan Patriot

Sebuah kenangan menyapu seluruh ruas jalan
Membuat aku berjalan seperti bersama masa lalu
Kendaraan hilang, membuatnya sunyi kembali tanpa bising mengganggu
Hilang lenyap sendiri tertelan oleh tahun-tahun itu
Ketika purnama 3 malam lagi bulat sempurna
Terlihat aku dan aku berjalan pelan dengan asik pikiran memburu senang
Tanpa menjadi kesepian
Aku lebih suka berjalan dalam sunyi
Tanpa obrolan atau lelucon, ya… hanya diam
Sesekali tangan menjadi komunikasi paling meyakinkan
Sejenak untuk kemudian sama-sama tenggelam
Masa itu ketika tidak lagi hidup bersanding dengan banyak basa-basi
Kala itu semua akan menjadi sama adanya tanpa rekayasa
Bahwa rinduku nyata
Bahwa cintaku masih tetap sama
Jalan ini menjaga untuk langkah kaki bisu
Untuk mimpi menuju hal itu

Kenapa, Harus Ada

Kau adalah penyusup hebat, halus, tanpa jejak yang bisa diartikan langkahnya
Menjalar dengan cepat dari dalam nadi, menyebar dan lolos untuk kemudian berpendar
Menyisakan satu buah tanya, kenapa harus ada?
Pernah singgah dan kini enggan untuk beranjak
Memenuhi otak dan nyata dalam pelupuk mata
Yang tidak pernah mau menghilang seperti ia yang belum datang
Siksa membuat kesan bahwa aku sebenarnya tidak merasa benci
Semakin terikat semakin ingin untuk dekat
Semakin jauh,
Kuat tarikan berkali lipat menyeret untuk kembali

Bermusuhan

Tidak akan lagi aku akan pernah berdamai
Kepada masa yang biar habis sia-sia
Kepada keras semesta berusaha membuat jeda
Aku bagaikan kumbang lapar yang mencium sari bunga sesaat mekar
Mari kita umumkan saja permusuhan ini
Dan aku tidak akan pernah mau berdamai lagi
Kepada semua yang bersekongkol
Tidak gentar akan ku ambil arah memutar bila pintu itu kau tutup rapat-rapat
Aku menjadi bermusuhan kepada semesta
Memberikan jarak agar kau lama di sana

Puisi Roman Picisan Ungkapan Rasa Kasih Sayang

Kembang

Memetik yang terindah dalam pagi berkabut
Membuat ia pasti belum mendapat kecupan dari satupun kumbang karena malas untuk membelah dingin
Aku menjadikan kau pertama yang akan mencium wanginya
Memilihkan semua warna dengan degradasi serupa
Membentuk serasi dalam satu genggam cinta yang akan aku persembahkan
Sedikit sentuhan membuat ia terlihat semakin indah untuk menghangatkan harimu
Memunculkan senyum rekah melebihi bunga yang aku bawa
Kembang
Aku tau kau menyukainya
Terimalah dengan kurang tidur untuk mendapatkan yang terbaik
Terimalah untuk sekuntum kasih yang aku selipkan di dalamnya

Ternak Yang Pergi

Tanpa mampu untuk menahan ia meluncur begitu gesit
Menjamah setiap lekuk membentang untuk sampai di tempat bahagia
Pelan, tak mampu lagi menjadi pelan
Ini sudah tidak mampu lagi ku buat menjadi terlihat anggun
Kepada hari ini aku persembahkan se isi bumi
Biarlah kau memilih aku mempersilahkan pasrah segalanya
Teruntukmu
Aku seperti ternak yang berhasil pergi
Berlari tanpa ingin berhenti lagi
Mencapai tempat terjauh masuk dalam relung hati
Dalam terjatuh dan menjadi lumpuh
Di dalam sana
Aku telah mengetuk dengan seluruh isi bumi agar ia terbuka

Buah Masam

Aku pastikan hanya manis yang engkau kecap
Tidak mengizinkan asam membuat kecut wajah lucumu
Mencicipi semua hidangan untuk memastikan semua aman
Menghamparkan karpet lebar untuk kaki jenjangmu melangkah
Menyalakan lampu, sorot wajahmu semakin sempurna cemerlang
Aku adalah baju beli penghalang peluru untuk merobek kecil pori kulit indahmu
Tidak akan kau dapati buah yang masam sampai aku tertidur dan tidak bangun kembali
Telah ku suap setiap pohon untuk hanya memberimu yang paling sempurna
Aku,
Untukmu buah yang masam tak lagi ku ijinkan mendekat mu

Aku Dulu

Semakin lelap aku semakin ingin terjaga
Melihat mu dalam keadaan baik saja
Tanpa ada nyamuk mendekat
Dingin yang membuat kulitmu merinding
Aku dulu
Muda dengan kemampuan menempuh jarak yang jauh sekejap waktu
Berjanji mengendongmu ke semua tempat indah
Untuk mengukir tawa
Membuat kau jatuh cinta
Aku
Dahulu samalah dengan kini di hadapanmu
Terbaik adalah janji yang aku pelihara sampai nanti

Mimpi Jalan-Jalan

Erat dalam genggaman punggungmu adalah tempat paling indah
Menghipnotis aku dalam laju yang kian membuat aku tak ingin pergi
Ditonton bintang dari langit malam kota sejuta Kenangan
Wangi anggrek sesaat membuat mata terbuka untuk terpejam kembali dengan cepat
Sorot lampu berusaha membangunkan
Aku terlalu nyaman untuk mengangkat wajahku dari balik tubuhmu
Menjadi satu-satunya yang memiliki keberuntungan tanpa lawan
Sejuta tahun lagi akan mampu menetap
Membelah malam dalam mimpi di balik hangat tubuh jangkung
Melingkarkan lengan membuat mimpiku semakin lelap

Menarik Ujung Pagi
Tarikan ujung pagi agar cepat ia terbangun
Meninggalkan peraduan teramat lama ia ingin berasa di sana
Semua rayuan ku keluarkan untuk membuat pagi segera kembali
Menyiraminya dengan doa agar hariku menjadi luar biasa seperti saat lampau
Menyiapkan angin paling menyejukkan
Mengatur matahari agar memiliki hangat yang pas
Pastikan kau memiliki hari terbaik
Terjaga senyum di wajah indahmu menjadi tugas terpentingku
Menyembunyikan hujan di balik punggung untuk kau lihat cerah bumi pagi ini

Puisi Roman Picisan Kasih Rindu

Rinduku

Ada angkuh yang semakin berburu rindu
ada gengsi yang mengecap pilu, semua itu karena kamu
Saat hujan mata ini sudah tak terbendung, mungkin ada sebuah angin yang menelantarkan rindu ke langit yang mendung.
Saat malam tiba ada lelah bercampur rindu yang berkumpul menjadi satu, yang menunggumu untuk berjumpa di akhir minggu.
Suatu malam rinduku juga selalu berputar-putar tak terarah, mencari sang pemilik rindu agar tak bertepuk sebelah tangan
Secangkir coklat panas ditemani oleh masa lalu, satu kombinasi klasik yang bertaburkan rindu
Saat puisiku terbungkus oleh rindu, kutitipkan rindu kepada malam dan kepada kamu kutitipkan hatiku
Ketika rindu ini mengusik, akan kubiarkan karena ini tanggung jawabku
Biarkanlah pagi ini memburu senja, biarlah senja ini merangkul malam. Karena waktu tak akan sanggup menyapu rinduku
Begitu pula dengan jarak ini memeras sebuah rasa, untuk menguji cinta dan tak akan kubiarkan binasa begitu saja
Aku mempunyai rindu yang begitu membara, ku tumbuhkan cinta dengan suka cita
Begitu indahnya, dan kujadikan sejarah paling terindah untuk kita

LDR

Jangan kau jadikan jarak sebagai alasan untuk mengutuk kesalahan kita, karena sesungguhnya jarak adalah sebuah hal untuk memantaskan kita untuk pantas dimiliki atau tidak.
Kepada sang rembulan itu mereka menggantungkan harapan dan juga mimpinya, yang selanjutnya kita serahkan semua itu kepada Yang Maha Mengetahui yang menentukan jalannya.
Sebuah jarak tak jadi masalah, karena kita masih melihat langit yang sama!
Ada yang selalu menunggumu walau langit sudah berganti dari siang menjadi malam
Di saat matahari terbenam berganti malam dengan percikan-percikan rindu yang mulai saling memburu, semoga kerinduan ini sampai kepada yang dituju.
Ada saatnya jika rindu ini adalah jutaan kata yang tak tahu siapa pemiliknya. Karena Tuhan menciptakan rindu agar kita tahu begitu berharganya waktu disaat kita bertemu.

Sang Purnama Rinduku

Aku bukanlah seorang penyair yang baik
Aku hanya menuliskan apa yang aku rasa
Karena kamu adalah alasan dari terciptanya bait ini
Ketika ku bersamamu kau membuatku lupa
Namun kehilangan kamu itu sebuah duka
Jika kamu adalah bagian dari tulang rusukku
Tuhan, Engkau menciptakanmu dari senyumNya
Puisi-puisi ini tercipta untukmu
Yang sangat mencintaimu
Yang tak pernah berhenti membicarakan semua tentang dirimu
Banyak cara untuk mengapai kebahagiaan
Namun kehilangan kamu bukan sebuah keinginan
Tataplah purnama malam yang sama ini
Lalu pejamkan mata sejenak
Agar cahaya sang purnama memelukmu malam ini
Untuk pengganti disaat aku merindukanmu
Wahai sang purnama rinduku

Detak Rinduku

Terkadang rindu itu melelahkan
Namun terkadang membuat pilu
Detak rinduku kini tak lagi tentang namamu
Mungkin terlalu lelah mendengar nama kamu
Hingga suatu hari air mata ini kering karenamu
Karena menangisimu
Cukup hati ini remuk dibuatmu
Terkadang terluka itu pasti ada
Namun bangkit dari itu semua adalah jalan terbaikmu
Karena jika kita bersama
Belum tentu kita kan bahagia, karena bahagiamu bukanlah aku

Rindu Yang Bikin Pilu

Tentang rasaku yang begitu sederhana ini
Yang ku ingin hanyalah tidak berpisah lagi
Namun kenapa Tuhan ciptakan mendung sore ini
Yang menghiasi indahnya langit sore ini
Ketika hatiku sedang di uji
Oleh perasaan ini
Mengapa
Sinar mentari enggan muncul lagi
Mengapa
Semesta ini mencari tempat dan celah untuk menghalanginya
Ada apa dengan wulandariku
Yang menyambut rinduku dengan sembilu
Membuat hati ini sakit, menjerit
Karena engkau membuatku terdiam
Terpaku hingga tak berdaya

Kata Kata Puisi Romantis Roman Picisan

“Perempuan itu bernama Wulandari..
Bulan purnama artinya..
Bahkan bidadari..
Wanita sempurna yang membuatku bangga..
Yang berjuang untuk meraih cita-cita..
Pergilah bidadari..
Percayalah..
Pujanggamu akan selalu menanti..”
***Roman Picisan***

“Perempuan itu bernama
Wulandari..
Bulan purnama artinya
Bahkan bidadari
Senyumnya buatku bahagia
Tawanya..
Buat hidupku sempurna
Jangan pergi Wulandari
Jangan pergi bidadari
Jangan hancurkan segala mimpi
Jangan tinggalkan aku dalam sepi”
***Roman Picisan***

“Pedagang bilang..
Emas adalah harta yang berharga..
Aku setuju..
Profesor bilang..
Ilmu jauh lebih berharga..
Aku setuju..
Guru ku pun bilang..
Pengalaman yang paling berharga..
Aku setuju..
Pedagang, Profesor dan Guru ku pun setuju..
Saat aku bilang..
Wulandari..yang paling berharga..”
***Roman Picisan***

Baca juga: Contoh Puisi Cinta untuk Pacar / Ibu / Sahabat / Islami / Romantis

“Ku pikir..
Rindu itu saat aku tak menatapmu..
Tapi aku salah..
Karena saat ini ku pandangi kau lekat..
Tapi rinduku..
Justru semakin pekat..
Ku sadar..
Rindu itu bukan hanya saling menatap..
Tapi ada canda tawa yang saling mengikat..
Rinduku..
Cepatlah kembali..
Karena ku tak ingin menangis lagi..”
***Roman Picisan***

“Kalau rinduku adalah tetesan air hujan
Tentu bumi ini sudah tenggelam
Kalau rasaku ibarat bintang
Tentu langit tak lagi miliki malam
Perpisahan ini membuatku mengerti
Kalau memilikimu begitu berarti
Ketidakhadiranmu..
Buatku pahami..
Kebersamaan kita..
Adalah anugerah Ilahi..”
***Roman Picisan***

“Cepatlah sadar wulanari
Jangan berpikir untuk pergi
Semua menyayangimu
Apalagi aku”
***Roman Picisan***

“Ya Allah Engkau Maha Tahu
apa yang menjadi kegelisahanku malam ini..
Hamba mohon Ya Allah..
Lindungilah Wulandari..
Dimanapun dia berada..
Karena Do’a ini..
Adalah caraku memeluknya dari jauh..
Ya Allah jauhkanlah Wulandari
Dari segala penyakit dan marabahaya
Berikanlah dia selalu kebahagiaan
Dan ketenangan dalam menggapai cita-citanya
Aamiin..”
***Roman Picisan***

“Saat musibah datang tanpa kuduga
Menjadi kuat..
Adalah satu-satunya yang ku punya
Kematian adalah sebuah kepastian
Namun bertahan..
Bukanlah sebuah kemustahilan..
Karena ku percaya kebesaran Tuhan..
Dia..
Tidak akan tinggalkan mereka..
Yang memiliki pengharapan..”
***Roman Picisan***

“Prahara itu datang
Membuatku terguncang
Padahal..
Rindu ini sudah terlalu dalam
Apakah masih harus dihias
Dengan pertengkaran
Kumohon..
Jangan marah, bidadari
Karena diammu
Buatku gelisah setengah mati..”
***Roman Picisan***

“Aku tak peduli..
Jika hari ini gelap gulita..
Karena yang terpenting..
Kau telah membuka mata..
Aku tak memohon..
Agar matahari terus berseri..
Karena senyumanmu..
Lebih indah dari pelangi..
Terima kasih..
Bidadari..
Kau telah hapus segala nyeri..
Dan hiasi duniaku..
Bagai surgawi..”
***Roman Picisan***

“Seandainya hati ini bisa dituliskan
Entah berapa juta kata berisi namamu
Seandainya rindu ini bisa digambarkan
Entah sudah berapa ratus lukisan
Gambar wajahmu..
Kita memang berjauhan
Namun percayalah
Ini hanyalah jarakBukan hati”
***Roman Picisan***

“Kura-kura memiliki kaki empat
Tapi langkahnya sangat lambat
Ikan tak memiliki kaki sepasang
Tapi tiada yang ragukan kemampuannya berenang
Karena yang terpenting..
Bukanlah jumlah..
Tapi percayalah..
Kita semua memiliki anugerah..”
***Roman Picisan***

“Pak..
Gunung sinabung menjulang tinggi
Namun hormatku padamu jauh lebih tinggi
Pak..
Apakah kau tau dalamnya lautan arafura
Cintaku padamu lebih dalam tak terkira
Ada banyak pahlawan di negeri kita
Tapi pak..
Hanya kaulah pahlawan yang paling ku puja”
***Roman Picisan***

“Cinta itu memang buta
Karena itu..
Dia tidak memandang rupa
Cinta itu tulus..
Karena itu..
Dia tidak mengharapkan fulus
Cinta itu bukan masalah lagi
Karena cinta..
Memandang hati..
Karena untuk Roman Arbani..
Wulandari..
Tak akan terganti..”
***Roman Picisan***

“Jarak ini meremas rasa
Menguji cinta yang tak kubiarkan binasa
Aku punya setia..
Aku punya rindu yang membara
Ku tumbuhkan cinta diatas suka cita
Yang indahnya..
Yang menjadi sejarah paling indah
Untuk kita”
***Karin***

 “Rasa ini di hempas..
Air mata pun kembali terkuras..
Tinggalkan luka yang membekas..
Bidadari..
Kapan kau bisa mengerti..
Kalau cinta kita begitu berarti..
Bulan purnama..
Kapan kau pahami..
Kalau kebersamaan ini..
Lebih indah dari pada seorang diri..”
***Roman Picisan***

“Ada apa dengan bidadariku
Dia sambut rinduku
Dengan sembilu
Hatiku sakit..
Duniaku menjerit..
Di hari lahirmu..
Kau membuatku nelangsa
Hingga membuatku diam
Terpaku tak berdaya..
Bulan purnamaku..
Kenapa kau biarkan aku..
Tersesat dalam cinta yang rumit”
***Roman Picisan***

“Inilah..
Kisah kami yang sederhana..
Yang tidak hanya mengagungkan cinta..
Tapi juga persahabatan..
Dan upaya meraih cita-cita..
Mungkin..
Bagimu ini picisan..
Tapi bagi kami..
Ini lebih indah dari berlian..
Mungkin..
Bagimu ini hanya baper saja..
Padahal ada perjuangan dan air mata..
Dan kami yakin..
Semua ini..
Tidak sia-sia..
Dan akan membentuk kami..
Menjadi seorang manusia..”
***Roman Picisan***

“Ibarat burung merpati
Cintaku terbang tinggi
Karena burung merpati mengerti
Sejauh apapun pergi
Pasti akan kembali
Tapi kini..
Cintaku bagai sebatang kayu
Yang terbakar tanpa ampun
Begitu gelap hitam
Tak mampu kembali menjadi pualam”
***Roman Picisan***

“Sejak ku terima tolakmu
Tawaku adalah palsu
Ku berikan cinta suci
Tapi kau sebut imitasi
Terima kasih..
Telah memaksaku untuk pergi
Dan kupastikan aku takkan kembali”
***Samuel***

“Aku hanya manusia biasa
Aku tidak sempurna
Aku pun berbuat dosa
Tapi aku tetap berusaha
Agar tidak ada kebohongan lagi
Dalam hubungan kita
Tapi apa dayaku
Jika kejujuranpun kau bilang dusta
Luluh lantak seluruh asaku
Jika ucapku tak lagi dipercaya”
***Roman Picisan***

“Ku datang tanpa kau undang
Karena ingin berikan kejutan tak terlupakan
Tapi kini ku pulang bagai dibuang
Tanpa ucapan selamat jalan
Apakah ini akhir..
Sungguh ku tak mau
Tapi sungguh ku khawatir”
***Roman Picisan***

“Cinta yang paling menyakitkan..
Adalah cinta tanpa restu..
Ingin bersama..
Tapi tak boleh bersatu..
Tuhan..
Tolong bukakan jalan Mu..
Berikan kesempatan untukku..
Karena pada saat kau membuka pintu bagi kami..
Tak ada seorangpun mampu menghalangi..”
***Roman Picisan***

“Dulu aku punya dua bintang..
Di hidupku..
Tapi satu bintang pergi..
Dengan membawa separuh nafasku..
Sekarang..
Bintang yang lain..
Merintih pilu..
Dan ku takut..
Kehilangan seluruh hidupku..
Bintangku..
Izinkan aku merawatmu..
Karena kau..
Sangat berharga..
Bagi hidupku..”
***Wulandari***

“Apakah ini mimpi..
Ataukah ini ilusi..
Bidadariku..
Tak sangka hadir disini
Tidak..
Aku tak bermimpi
Bidadariku telah kembali
Ini semua nyata
Bidadariku ada di depan mata
Terima kasih Tuhan..
Kau sudahi perpisahan ini
Kau hapus jarak diantara kami”
***Roman Picisan***

“Ketika kita..
Bukan cuman saling memandang
Tapi juga saling mengerti
Ketika kita..
Bukan cuman saling memuja
Tapi juga saling menjaga
Ketika kita..
Bukan cuman berusaha menang
Tapi juga berusaha mengalah
Karena cinta yang sejati
Ditunjukan dengan perbuatan
Bukan dengan kata-kata hiasan”
***Roman Picisan***

“Sembilu itu menghujam relungku..
Padahal, harapan kuukir di tanganmu
Tapi kau malah pergi..
Meninggalkanku dalam sepi
Mungkin, ini salahku..
Kuabaikan kasihnya terbang ke atas awan..
Kubiarkan cintanya tak bertuan
Kini..
Tangisku tiada arti..
Karena cintamu telah mati..”
***Karin***

“Bukan ku ingin berdusta..
Tapi ini terpaksa..
Andai dapat ku putar waktu..
Takkan ada kesalahan itu..
Ketahuilah bidadari,
Kulakukan ini..
Agar kau tak bersedih hati..”
***Roman Picisan***

“Cintaku tak sekedar janji..
Ini adalah ikrar sampai mati..
Menjauh tak mampu kutepati..
Apalagi untuk menghianati
Cintaku tumbuh dengan harap..
Harap untuk selalu bersama denganmu..
Seperti jiwa dalam raga yang menjadi satu..”
***Roman Picisan***

“Hatiku seketika pedih..
Melihat bidadariku bersedih..
Jangan takut bulan purnamaku..
Aku selalu disini menemanimu..
Kan kupeluk semua resahmu..
Kan kujaga selalu senyummu..
Agar senyummu jelita..
Selalu ada dan tak pernah sirna..”
***Roman Picisan***

“Anganku hanya satu
Perjuangkan cinta yang kupuja
Bukan dengan pisau yang bisa menyakiti
Bukan dengan arak yang bisa memabukan
Tapi dengan perisai ketulusan
Yang kumiliki sepenuh hati”
***Roman Picisan***

Baca juga: 35 Puisi Ulang Tahun untuk Pacar, Sahabat dan Ibu yang Sangat Menyentuh Hati

“Baru sejenak kunikmati hadirmu
Namun prahara kembali datang mengganggu
Takdir seakan enggan biarkan kami bersatu
Tuhan..
Kenapa selalu ada jarak untuk kami..
Semesta..
Kapan kebersamaan kami menjadi abadi..”
***Roman Picisan***

“Bidadariku..
Andai bisa kuingkari takdir
Andai bisa kupaksa perpisahaan ini berakhir
Tapi ku tak berdaya
Ku hanya bisa berdoa
Agar ini semua hanya mimpi
Aku ingin segera terbangun esok hari
Dan mendapati kau selalu disisi..”
***Roman Picisan***

“Langit cintaku seakan runtuh
Saat bidadariku lemah dan terjatuh
Ku ingin genggam tangannya yang lemah
Ku ingin peluk raganya yang tak berdaya
Bulan purnama..
Bangunlah dengan binar matamu..
Berikan aku senyum jelitamu..
Jangan biarkan aku dalam sepi..
Karena kau..
Adalah pelita hati..”
***Roman Picisan***

“Jangan iri pada seorang putri
Karena bagiku kaulah bidadari
Cantiknya peri tak buatku berpaling
Karena bagiku kaulah yang terpenting
Tersenyumlah..
Karena senyumu indahkan duniaku
Bahagiamu, Adalah bahagia sejatiku”
***Roman Picisan***

“Tatap mataku saat kau ragu
Maka kau akan lihat
Ketulusan dimataku
Pegang tanganku
Saat kau inginkan kepastian
Maka..
Akan kuberikan kau satu kehangatan
Saat kau merasa sendirian
Diantara ribuan peri
Tetaplah yakinkan diri
Ku pasti akan tetap menemukanmu
Karena ribuan peri
Takkan pernah
Bisa mengganti sosok bidadari”
***Roman Picisan***

“Aku dan jenuhku, bersama membisu.
Terlalu jauh untuk meraih, bintang yang sedang ku tatap.
Aku dan senyumku, mengikuti diam dan termenung meratap mimpi, yang kini hilang dalam sekejap”
***Roman Picisan***

“Jangan tanya sedang apa aku hari ini, karena yang kulakukan selalu sama.
Sedang mencintaimu. Sedang mengharapkanmu.
Setiap hari.”
***Roman Picisan***

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana.
Tanpa memikirkan rumitnya rumus fisika dan sulitnya perhitungan ekonomi.”
***Roman Picisan***

“Aku dan kamu ibarat senja dan malam, saling berdampingan namun tak dapat bersatu”
***Roman Picisan***

“Kamu adalah ketidak pastian yang kuperjuangkan”
***Roman Picisan***

“Aku dan kau bagaikan laut dan pantai..
seperti api dan bara yang meninggalkan debu,,
menyatu seperti sinar mentari menyentuh embun pagi..
menjadikannya tetesan air sebening kristal”
***Roman Picisan***

“Kata orang di Utara, mawar itu indah.
Aku diam.
Kata orang di Selatan, krisantemum lebih indah.
Aku diam.
Kata orang di Timur, melati paling indah.
Aku diam. Orang di Utara, Selatan, dan Timur diam.
Aku bilang, Wulandari yang terindah.”
***Roman Picisan***

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana,
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan,
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.”
***Roman Picisan***

“Di penghujung hari yang hampir hilang.
Ku tetap menggenggam rasaku.
Tanpa memiliki kesimpulan tentang rasamu.
Hanya mampu ratapi rasaku.
Dan mendoakan munculnya rasamu.”
***Roman Picisan***

“Kupikir benci.  Ternyata ku peduli.
Ku rasa dendam.
Ternyata rasa terpendam. Apa ini cinta?”
***Roman Picisan***

“Kupikir pisau itu tajam tapi perkataanmu lebih menghujam
Kupikir bangkai itu busuk tapi penolakanmu lebih menusuk”
***Roman Picisan***

“Cinta kau datang tanpa dikira, kau pergi tanpa menyapa..
Cinta kau itu indahkan dunia, tapi kau tak lupa menabur luka..
Cinta, aku mohon padamu jangan datang untuk pergi jangan berbahagia lalu menyakiti..”
***Roman Picisan***

“Cintaku tak harus miliki dirimu, meski perih mengiris-iris segala janji”
***Roman Picisan***

“Perempuan itu bernama Wulandari,
Bulan purnama artinya..bahkan bidadari..
Tapi dimataku..Wulandari adalah bahaya..
Bahkan harus dihindari”
***Roman Picisan***

“Kata orang benda termahalmu adalah waktu
Karna hanya sekali tak bisa diputar kembali
Jadi..kuberterima kasih kepada Wulandari Untuk terbuangnya waktu yang takkan kembali”
***Roman Picisan***

“Di penghujung hari yang hampir hilang
Ku tetap menggenggam rasaku
Tanpa memiliki kesimpulan tentang rasamu
Hanya mampu ratapi rasaku Dan mendo’akan munculnya rasamu”
***Roman Picisan***

“Kata orang cinta itu buta
tapi kenapa aku tetap bisa memandangi keindahanmu
Kata orang cinta tak ada logika
Tapi kenapa pikiranku teratur menyimpan senyumu
Kata orang cinta itu menyakitkan
Tapi kenapa aku tetap bertahan”
***Roman Picisan***

Kamu adalah kebenaran yang harus kuingkari
Kamu adalah keindahan yang tak mampu kunikmati
Kamu adalah keindahan yang hadir lewat mimpi”
***Roman Picisan***

“Berat bibir ini terucap
Perih mata ini menatap
Menjelang hadirnya perpisahan
Perpisahan bagiku derita
Memenjarakan kenangan
Menaburkan luka
Tapi perpisahan punya janji
Pasti akan bertemu lagi
Selama bukan perpisahan abadi”
***Roman Picisan***

“Ya Allah, mungkin aku bukan orang baik
Tapi aku percaya kau pasti mendengarkan do’aku ini
Ya Allah, sembuhkanlah semua luka dan sakit pada Wulandari
Dan jagalah dia sebaik-baiknya malam ini
karena aku tidak mampu melakukannya. Aamiin”
***Roman Picisan***

“Ketika kita menghadapi kesulitan Dan kita tidak menyerah Itulah kekuatan kita”
***Roman Picisan***

“Apakah kamu tahu saat aku bilang aku benci kamu
hatiku menjerit tak setuju
Apakah kamu tahu saat aku bilang aku rela melepasmu
itu kebohongan terburuk”
***Roman Picisan***

“Kupikir sudah lupa,
Ternyata rasa itu masih ada.
Mungkin hanya Wulan yang mampu merusak move on sebulan!”
***Roman Picisan***

“Sebulan berlalu…
Dan aku hanya bisa menggenggam rindu,,,
Berharap mampu lupakan..
Tanpa perlu mengingat senyummu..”
***Roman Picisan***

“Ini kesimpulan tentang hatiku..
Tentang rasa yang bergitu hebat
Tentang rindu yang menggeliat
Tentang dirimu, yang semakin berat untuk kupikat..”
***Roman Picisan***

Baca juga: Puisi Hujan penuh Kenangan Indah dan Kerinduan bersama pacar

“Waktu, Bukankah dia percaya sebagai pengobat luka?
Tapi kenapa kini dia hadir sebagai pengingat lara”
***Roman Picisan***

“Saat aku lelah, Kuminta rindu Untuk pergi..
Tapi rindu, sudah tersesat, dalam labirin..
Hati.. Bersemayam abadi, agar aku terus teringat semuanya
Tentang kamu…”
***Roman Picisan***

“Tentang rindu yang mengusik
Biarlah ini jadi tanggung jawabku
Pagi biarkan memburu senja..
Senja biarkan merangkul malam
Karena waktu takkan mampu menyapu rinduku
Tapi kamu…
Kamu adalah tujuan akhir rinduku berlabuh..”
***Roman Picisan***

“Adakah rasa yang lebih menyakitkan,
Dari hilangnya hak untuk menyapamu,
Adakah rindu yang lebih menyesakan,
Dari sirnahnya kebersamaan kita..”
***Roman Picisan***

“Kepercayaan itu ibarat kata sebuah kaca
Saat kaca itu pecah,
Pecahan kaca itu pun menjadi tajam
Kepercayaan gue sama lo Sekarang udah pecah..
Sekarang gua adalah pecahan kaca yang tajam itu
Jadi lebih baik, lo jaga jarak dari gue
Karena gue bisa aja melukai lo”
***Roman Picisan***

“Kalau cinta sungguh mencinta,
Dia tidak meminta..
Kalau cinta sungguh berharga,
Dia tidak memaksa..
Senyumanmu adalah harapanku..
Bahagiamu adalah segalaku..
Meskipun senyuman dan bahagiamu..
Tanpa aku..”
***Roman Picisan***

 “Tenang lah jiwaku,
Jangan bersedih
Tulus lah seperti Hujan dimalam hari
Yang tidak bisa Menampilkan pelangi”
***Roman Picisan***

“Saat seseorang sudah berikan rasa nyaman
Mengusirnya sangat menyulitkan
Menggantinya hanyalah sebuah kemustahilan”
***Roman Picisan***

“Taukah kamu…
Saat temaram hatiku terang oleh senyumu
Aku serahkan rinduku untukmu
Saat gerimis senja hilang oleh pelangi di matamu
Aku titipkan harapanku padamu
Tetaplah menjadi rembulan Di atas langit itu
Agar aku selalu menatapmu”
***Roman Picisan***

“Kamu yang manis namun perlahan mengikis
Kamu berjanji menjaga namun perlahan menabur jelaga
Ku tak perlu semua indah
Ku tak menginginkan bahagia
Hanya satu kupinta apapun yang terjadi Kau tetap ada”
***Roman Picisan***

 “Inilah aku…
Seorang puja ngga yang ingin Menjadi penjuang cinta
Aku merangkai asa dengan keterbatasanku
Berharap ..
miliki hitungan detik yang singkat ini
Untuk selalu bersamamu..”
***Roman Picisan***

“Cinta itu butuh waktu..
Tidak pernah datang.. lebih dahulu…
Atau bahkan terlambat.. Datang..
Cinta selalu menyapa..
Pada saat yang.. Tepat..”
***Roman Picisan***

“Aku disini…
Dan kau di seberang jalan itu,
Ada lampu merah di tengah kita,
Menjadi pembatas tanpa jeda
Lampu merah…
Berubahlah menjadi hijau,
Agar tidak ada lagi yang menghalau.”
***Roman Picisan***

“Saat malam datang tanpa hadirnya bintang
kau datang berikanku cahaya
saat angin semilir tak menyejukan hatiku
kau hadir membawa kesejukan lewat senyumu..
Ijinkan hasratku bersandar dihatimu
agar rasa ini bisa memberi kehangatan di dalam hatimu”
***Roman Picisan***

“Seseorang berkata,
ada satu cara membuat wanita jatuh cinta…
yaitu buatlah dia tertawa..
Namun ku tak pernah bisa karena..
saat dia tertawa, Justru diriku yang semakin cinta”
***Roman Picisan***

“Ada banyak panggilanmu bunda, mama, atau ibu
Satu yang pasti,
panggilan itu lebih mulia daripada ratu
Kau relakan tubuhmu,
sebagai pintu masuk kami ke dunia ini
Kau hancurkan egomu,
demi hadirkan tawa Dibalik derai tangis kami,
kau adalah pelangi dalam jiwaku
Kau lah kehangatan, disaat aku lelap dalam pangkuanmu”
***Roman Picisan***

“Orang bilang..
Hati butuh seseorang tuk berlabuh..
Aku tak setuju..
Karena berlabuh bisa berlayar lagi
Dan meninggalkan luka hati..
hatiku butuh tempat perhentian abadi tanpa mencari lagi..
aku berharap.. itu ada pada wulandari”
***Roman Picisan***

“Harta paling berharga adalah waktu
Warisan paling tak ternilai adalah kesetiaan
Jika keduanya, kudapat darimu
Ku tak inginkan lagi semua yang semu..”
***Roman Picisan***

“Cinta..tidak pernah salah
Namun cinta..tak selalu indah
Cinta tak pernah menyiksa
Dia hanya menguji rasa
Cinta..tak akan pergi
Jika hasrat ingin bersama
Selalu kembali”
***Roman Picisan***

“Keindahan ini bernama Wulandari
yang mengalirkan hangat,
dalam setiap aliran rinduku
Kenyamanan ini masih tentang Wulandari
yang selalu membawaku kepada pengharapan hatiku
Kini aku hanya bisa berucap lirih tentang waktu
andai sang waktu tak pernah berakhir
wulandari.. pasti tetap bersamaku”
***Roman Picisan***

“Ku bohong kalau ku tak rindu
Karena tiap hari kuterbayang Ayah dan Ibu
Godaan mengintai Untuk kembali ke kampung halaman
Mengiris tekadku di perantauan
Tapi aku.. Aku tak boleh lemah
Aku tau aku tak boleh kalah
Biarlah lautan rindu ini Kubalas dengan kebanggaan
Yang akan aku bawa pulang”
***Roman Picisan***

“Matamu terbuka..
Sebelum mentari ada
Langkah mu tegak tercipta
Mengejar impian dunia.
Uang.. Bagimu yang utama
Waktu.. Hanya bagi dia semata
Keluarga.. itu nomor dua
Persahabatan.. Sudah tiada artinya.
Namun apa yang kau dapat kawan
Hanyalah aroma kehampaan
Rasa puas tak kunjung datang
Dan harimu berakhir
Karena takdir Tuhan.
Dikelilingi sahabat dan keluarga
Mereka menangisi kepergianmu bukan uangmu”
***Roman Picisan***

“Biarpun jarak membentang
Mata tak bisa saling memandang..
Ku biarkan kata-kata berkelana
Menembus hati yang jauh
Menghapus.. Semua air mata yang jatuh”
***Roman Picisan***

“Rindu.. Kau remas hatiku saat hasrat ingin bertemu
Tapi terhalang oleh waktu
Waktu.. Jika nanti terobati rinduku
Kumohon hentikan detikmu
Agar aku bisa selamanya selalu”
***Roman Picisan***

“Cintaku sederhana..
Saat ku lihat bidadariku tersenyum,
Kupastikan dia akan ada di pelukku..
Takkan pernah ku biarkan siapapun merampas Keindahan pelangi di matanya
Rasaku juga tetap sama..
Biar pelangi itu..
Belum tentu bisa ku genggam..
Tapi ku selalu menatap warna indahnya..”
***Roman Picisan***

Video Kata-Kata Puisi Roman Picisan

Gambar Puisi Roman Picisan

1 Gambar Puisi Roman Picisan

2 Gambar Puisi Roman Picisan

3 Gambar Puisi Roman Picisan

4 Gambar Puisi Roman Picisan

5 Gambar Puisi Roman Picisan

6 Gambar Puisi Roman Picisan

7 Gambar Puisi Roman Picisan

Demikianlah kumpulan puisi roman picisan tentang rindu, cinta dan maaf. Semoga bisa bermanfaat untuk Pembaca semuanya dimanapun Anda berada. Sekian dan Terima Kasih.


Puisi Roman Picisan


Pencarian Terbaru

  • puisi roman picisan maaf
  • puisi roman picisan tentang sahabat
  • puisi roman picisan putus
  • puisi roman picisan maafkan aku
  • puisi roman picisan kecewa
  • puisi roman picisan part 2
  • puisi roman picisan maafku mungkin tak seberapa
  • puisi roman picisan the movie 2018
  • puisi roman picisan the movie 2019
  • puisi roman picisan Terbaru 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *